Pertama di Indonesia, Pedoman Injeksi Toksin Botulinum Dirilis

user
Danar W 20 November 2022, 03:49 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI) yang merupakan bagian dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) meluncurkan publikasi "Pedoman Injeksi Toksin Botulinum" yang pertama di Indonesia.

Pedoman tersebut memberikan informasi kepada praktisi estetika dalam memberikan pelayanan terbaik dan aman kepada pasien.

Ketua Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI), dr Lilik Norawati mengatakan saat ini belum ada pedoman penatalaksanaan injeksi toksin botulinum di Indonesia.

”Karena itu, kami dari Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI) yang merupakan bagian dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) menghimpun para pakar yang ahli di bidang kosmetik dermatologi membuat pedoman ini,” katanya di ICE BSD Tangerang, Sabtu (19/11/2022) .

Ia menambahkan, prosedur pembuatan pedoman penatalaksanaan ini didukung oleh Merz Aesthetics Indonesia. Ia berharap dengan terciptanya pedoman ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi para praktisi kosmetik dermatologi, sehingga dapat mencegah efek samping dan komplikasi yang dapat terjadi.

Ketua Perdoski Pusat periode 2022-2024, dr M Yulianto Listiawan, menjelaskan bahwa puluhan tahun terakhir saat toksin botulinum masuk dan didistribusikan di Indonesia belum ada keseragaman atau pedoman mengenai hal ini. Sampai akhirnya lahirlah “Pedoman Injeksi Toksin Botulinum” sebagai pedoman toksin botulinum pertama yang diterbitkan oleh KSDKI dan Perdoski.

Selain itu, adanya toksin botulinum dengan berbagai macam merek berbeda yang tentunya dapat memberikan outcomeyang berbeda merupakan masalah lain yang harus dihadapi dalam praktik kedokteran Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.

“Terbitnya buku pedoman ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para praktisi dalam melakukan pemilihan toksin botulinum yang tepat dan terbukti efektif dalam mengatasi masalah di bidang kosmetik estetik maupun medik seperti penuaan (keriput), dan yang off label seperti hiperhidrosis (keringat berlebih), kulit berminyak, jaringan parut (keloid), dan nyeri paska herpes (neuralgia paska herpes),” jelas Yulianto.

Menurutnya, melalui buku ini dapat juga dipelajari teknis-teknis klinis yang disesuaikan dengan tipe anatomi orang Indonesia khususnya, dan orang Asia pada umumnya. Sehingga pada akhirnya, dapat menumbuhkan kewaspadaan dan pengetahuan tentang pencegahan komplikasi pada pasien.

"Sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan kepuasan pasien, serta memajukan ilmu kesehatan kulit dan kelamin di Indonesia," papar Yulianto.

Demi mendukung hal tersebut, Chief Representative Merz Aesthetics Indonesia, Heidy Sembung menyampaikan bahwa pihaknya hadir sebagai mitra para dokter di dunia medical aesthetic untuk mendorong kepercayaan diri dengan membantu dokter termasuk para pasien agar bisa terlihat lebih baik, merasa lebih baik, dan hidup lebih baik (look better, feel better and live better).

“Salah satunya kami mendukung dengan cara peluncuran Pedoman Injeksi Toksin Botulinum pertama di Indonesia bersama Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik Indonesia (KSDKI),” tuturnya lebih lanjut.

Disamping itu, dirinya menjelaskan Merz Aesthetics memastikan bahwa selain produknya yang selalu memenuhi standar keamanan dan kualitas (termasuk) efektivitas yang tinggi, pihaknya juga memberi dukungan pendidikan berkelanjutan kepada para dokter, meningkatkan awareness dan edukasi tentang produk estetik terkini, contohnya toksin botulinum yang bekerja sama dengan organisasi kedokteran seperti Perdoski.

Selama ini para praktisi estetika menggunakan pedoman barat yang sudah ditetapkan dalam penggunaan toksin botulinum yang beredar. Namun khususnya di Indonesia, setiap orang memiliki kekhasan anatomi wajah sendiri dan memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam penggunaan toksin botulinum dalam perawatan estetika mereka.

Berlatar belakang tersebut, Pedoman Injeksi Toksin Botulinum ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan para praktisi estetika tentang teknik-teknik klinis dalam injeksi, cara kerja, indikasi, kontraindikasi, efek samping serta imunogenitasnya.

Imunogenisitas ini berkaitan dengan pengurangan atau tidak adanya efek terapeutik setelah perawatan awal yang berhasil, karena injeksi berulang Toksin Botulinum yang merangsang pembentukan antibodi termasuk antibodi netralisasi (NAbs) yang dapat melawan aktivitas biologisnya.

Mengingat meningkatnya tren saat ini dalam penggunaan toksin botulinum untuk perawatan estetika, penting bagi praktisi untuk melakukan penilaian klinis menyeluruh, menginformasikan pasien tentang risiko perawatan, mengembangkan rencana perawatan Toksin Botulinum untuk meminimalkan resistensi imun dan mempertahankan pilihan ToksinBotulinum sebagai perawatan lanjutan dengan hasil yang memuaskan.

Diharapkan Pedoman Injeksi Toksin Botulinum yang pertama di Indonesia ini dapat memberikan pengetahuan secara penuh kepada praktisi estetika dalam menjalankan prosedur injeksi toksin botulinum kepada pasien secara efektif dan aman terutama pencegahan terhadap komplikasi.(Ati)

Kredit

Bagikan