Perlu Upaya Bersama untuk Mengatasi Persoalan Gizi di Indonesia

user
Danar W 25 November 2022, 06:10 WIB
untitled

Krjogja.com - JAKARTA - Perlu upaya bersama untuk mengatasi persoalan gizi di Indonesia. Demikian diungkapkan pelaksana tugas Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan Ni Made Diah Pertama Laksmi mengatakan perlu upaya bersama untuk mengatasi persoalan gizi di Indonesia.

“Persoalan gizi tidak hanya bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, tetapi perlu kolaborasi dengan banyak pihak dan mitra,” ujar Diah dalam webinar yang diselenggarakan GAIN yang dipantau di Jakarta, Kamis (24/11/2022)

Ia menjelaskan Kementerian Kesehatan memiliki target menurunkan prevalensi balita stunting dari 24 persen menjadi 14 persen pada 2024. Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai program prioritas sebelum masa kehamilan dan setelah kelahiran.

Sejumlah program prioritas yang merupakan intervensi spesifik di antaranya skrining anemia pada remaja putri, konsumsi tablet tambah darah pada remaja, ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan sedikitnya enam kali, konsumsi tablet penambah darah bagi ibu hamil, makanan tambahan bagi ibu hamil, bayi mendapat ASI eksklusif, balita mendapat makanan tambahan yang kaya protein hewani.

Selanjutnya balita yang mengalami masalah gizi mendapatkan tambahan makanan, balita yang mengalami gizi buruk mendapatkan tata laksana yang baik, dan balita dipantau pertumbuhannya.

“Intervensi spesifik ini merupakan program prioritas yang jangkauannya rendah. Sementara kalau kita mau menurunkan prevalensi balita stunting dan masalah gizi lainnya, kita harapkan intervensi itu dapat memenuhi target. Untuk itu perlu kolaborasi bersama,” ujarnya.

Sebelumnya, Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) Indonesia bersama pemerintah terus mendorong sistem pangan menjadi lebih baik, sehingga dapat memberikan lebih banyak makanan bergizi untuk kelompok yang paling rentan.

Peneliti Senior SEAMEO REFCON Helda Khusun mengatakan intervensi permasalahan gizi tersebut dapat dilakukan mulai dari sekolah. "Mulai dari siswa mendapatkan makanan yang bergizi hingga skrining remaja putri yang mengalami anemia. Dengan demikian dapat dilakukan intervensi sejak awal," katanya. (Ati)

Kredit

Bagikan