Tren Pariwisata 2023

user
Danar W 25 November 2022, 09:10 WIB
untitled

Krjogja.com - SEKTOR pariwisata merupakan sektor yang memberikan dampak lanjutan bagi banyak sektor terkait. Industri makanan dan kerajinan, transportasi, akomodasi, dan keberlanjutan UMKM. Pandemi selama dua tahun, mengakibatkan seluruh sektor terkait pariwisata terpuruk dan mengguncang perekonomian daerah maupun nasional.

Bagaimanapun, keterpurukan selama pandemic, memberikan angin segar dan pergeseran perilaku dalam melakukan perjalanan wisata, tidak hanya lokal, tapi juga global. Expedia memprediksi bahwa kedepan, pendorong utama perjalanan wisata adalah wisata yang berkualitas, baik terkait dengan mindfulness, sensation-seeking, culture immersion, ataupun hal yang berikaitan dengan perjalanan yang berkualitas.

Wellness retreats merupakan wisata yang ditujukan untuk membawa kesehatan pikiran, tubuh, dan jiwa. Wisata mencari kedamaian dan kesenangan serta kebahagiaan.

Kerjasama DIY dengan sepuluh provinsi di Indonesia merupakan salah satu cara meningkatkan pariwisata. Budaya dan keunikan lokal yang selama ini terabaikan, menjadi prioritas dalam melakukan perjalanan wisata untuk merasakan sensasi budaya, makanan, alam, dan tantangan lain yang lebih natural.

Cukup mencengangkan bahwa 60 persen perjalanan wisata bersifat unplugged dengan melepaskan diri dari gadget dan internet serta kehidupan modern lainnya yang didapatkan dalam keseharian perkotaan.

Tidaklah mengherankan, wisata alam dan desa wisata tumbuk bak jamur di musim hujan. Desa wisata Panglipuran di Bali mampu membuat wisatawan tergoda untuk merasakan dan mengunjungi dasyatnya godaan media sosial yang mendongkraknya. Belum lagi kesejahteraan masyarakat yang terdorong meningkat melalui integrated tourism.

Begitu pula di Yogyakarta yang merupakan destinasi utama di Indonesia berkembang 136 desa wisata. Sehingga tidaklah salah bisa wisatawan mengatakan kreativitas Jogja membuat destinasi wisata berubah dan bertambah setiap tahunnya. Hal ini tercermin dari kelompok sadar wisata yang saat ini hampir seratus pokdarwis pada tahun 2022.

Dibalik harapan besar pada menggeliatnya perjalanan wisata dan trend di tahun depan,sejumlah tantangan perlu disikapi. World Tourism Organisation UNWTO mensinyalir bahwa tingginya tiket pesawat dan akomodasi menjadi tantangan sebesar 62 persen. Belum lagi volatilitas global dan kepercayaan wisatawan juga perlu dipulihkan.

Belum lagi ada kecenderungan peningkatan suspek covid-19 dan munculnya varian baru menjadi momok besar bagi industri pariwisata. Pemerintah dan masyarakat harus tetap disiplin untuk menjaga agar PPKM tidak terulang lagi karena benar-benar meluluhlantakkan sendi-sendi ekonomi masyarakat dan negara. Belum lagi sumber daya manusia yang kuat pada hospitalitas penting bagi wisatawan untuk tertarik melakukan kunjungan ulang dan merekomendasikan pada orang lain. Pemerintah juga harus membenahi infrastruktur di tiap destinasi wisata untuk menarik lebih banyak lagi kunjungan. Ekonomi lokal pasti akan bergerak seiring dengan berkembangnya wisata berkualitas dan kembali ke alam.

Kita tidak lagi dapat mengabaikan wisatawan nusantara, karena selama pandemi dan masa pemulihan wisatawan asing nyaris tidak melakukan perjalanan kedalam negeri. Tercatat tahun 2021 ada 603 perjalanan wisnus atau83,5% jumlah perjalanan tahun 2019. Wisatawan asing diperkirakan akan berasal dari Australia dan Korea Selatan sebesar 39 ribu wisatawan. Bila pandemi tertangani dengan baik, maka travel warning tidak akan menjadi ancaman bagi kunjungan wisatawan asing.

Keberhasilan Indonesia dalam penyelenggaraan agenda internasional seperti G-20 memperkuat keyakinan asing terhadap kemampuan Indonesia dalam menyambut delegasi maupun wisatawan mancanegara. Strategi yang bersifat multihelix serta ketajaman peta jalan pengembangan wisata diperlukan untuk meningkatkan peran sektor pariwisata melalui industry kreatif, teknologi informasi, kematangan destinasi wisata, serta hospitalitas masyarakat. (Dr. Suparmono, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, Pengurus ISEI Yogyakarta, dan Peneliti Senior Sinergi Consulting Group)

Kredit

Bagikan