Resflasi dan Stagflasi

user
Danar W 05 Desember 2022, 00:49 WIB
untitled

Krjogja.com - GUBERNUR Bank Indonesia (BI) dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 menyatakan bahwa Indonesia menghadapi resiko dan ancaman reflasi pada tahun 2023 (KR, 01/12/22). Ancaman resflasi yang terjadi pada tingkat global saat ini merupakan keadaan di mana ekonomi masih bisa tumbuh, namun dibarengi tingkat inflasi yang tinggi. Dengan kata lain, resflasi adalah kondisi dimana terjadi risiko resesi dan disertai inflasi yang tinggi. Jika berlanjut dimungkinkan adanya risiko stagflasi, pertumbuhannya cenedrung turun namun inflasinya tinggi.

Artikel singkat ini mencoba memahami kemungkinan terjadinya resiko dan ancaman terjadinya resflasi di tahun 2023. Bagaimanakah resflasi dan stagflasi bisa terjadi? Penyebab utama terjadinya resflasi tersebut adalah krisis pangan dan energi global yang masih berlanjut. Perang antara Rusia dengan Ukrania menimbulkan resiko ketidakpastian meningkat serta pasokan dan distribusi menjadi tersendat. Hal itulah yang menjadi penyebab utama krisis global terus berlanjut. Sementara pihak juga menyatakan ekonomi dunia saat ini bahkan sudah mulai mengarah ke situasi kondisi yang lebih buruk yaitu stagflasi.

Definisi stagflasi adalah kondisi ekonomi yang ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah dan angka pengangguran yang tinggi. Kondisi tersebut biasanya diikuti dengan inflasi. Penyebab stagflasi adalah: (1) melemahnya kondisi ekonomi, (2) meningkatnya jumlah uang beredar, dan (3) angka pengangguran yang tinggi. Selanjutnya stagflasi akan berdampak: (1) penurunan daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok termasuk bahan pangan dan energi. (2) Menurunnya investasi baik di pasar surat berharga maupun investasi langsung. (3) Menurunnya pendapatan khususnya perusahaan-perusahaan di seluruh industri.

Bank Indonesia (2022) mempredikasi ekonomi dunia akan tumbuh melambat tahun 2023, dari 3% pada tahun ini menjadi 2,6%. Skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi tahun 2023 bahkan kemungkinan hanya 2%. Saat ini risiko resesi juga sudah meningkat di Amerika Serikat dan Kawasan Eropa.

Dalam forum PTBI 2022, Gubernur BI juga memperingatkan setidaknya terdapat 5 (lima) permasalahan yang membayangi prospek ekonomi dunia pada tahun 2023. Pertama, pertumbuhan ekonomi yang menurun. Beberapa negara tidak hanya akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonominya namun juga ada yang berisiko masuk ke jurang resesi.

Kedua, inflasi masih akan tetap tinggi terutama yang didorong oleh kenaikan harga energi dan pangan. Ketiga, suku bunga tinggi sebagai konsekuensi dari kenaikan harga-harga barang. Banyak bank sentral dunia sudah meningkatkan suku bunga, termasuk The Fed dan BI. Banyak pihak menyatakan suku bunga tersebut masih mungkin ditingkatkan atau setidaknya akan dipertahankan sampai tahun 2024.

Keempat, terjadinya penguatan (apresiasi) mata uang dolar AS. Menguatnya dolar AS tersebut menjadikan banyak mata uang negara berkembang termasuk Indonesia mengalami pelemahan (depresiasi). Kelima, adanya kecenderungan investor global yang lebih suka memegang kas (cash is the king). Mereka mengalihkan asset yang dimiliki ke asset yang lebih mudah dicairkan (liquid) untuk menghindari resiko yang lebih tinggi.

Prediksi BI (2022), pertumbuhan ekonomi tahun depan akan melambat dibandingkan tahun 2022. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi termaksud hanya 4,73% (Pemerintah RI memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3%). Perlambatan pertumbuhan tersebut dsiebabkan menurunnya ekspor karena menurunnya permintaan dunia. Ekonomi Indonesia tahun depan akan didorong oleh konsumsi masyarakat. Dengan kondisi pandemi yang semakin membaik diharapkan investasi juga mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dengan mengacu kondisi fundamental ekonomi makro yang cukup baik, setidaknya sampai Triwulan III-2022 dan perkiraan kondisi sampai Triwulan IV-2002, penulis meyakini perekonomian Indonesia tahun 2023 masih tumbuh positif meskipun melambat dibandingkan tahun ini. “Optimis Namun Tetap Waspada”, demikian yang disampaikan Presiden Jokowi dan diperkuat oleh Gubernur BI dan Menteri Keuangan RI. Artinya menghadapi tahun depan yang disertai dengan ancaman resiko resflasi dan stagflasi namun harus disikapi dengan optimism. Di sisi lain, harus disertai kewaspadaan dalam mengeloka perekonomian secara makro dan mikro di level dunia usaha. (Dr. Y. Sri Susilo, SE, M.Si. Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta & Pengurus KADIN DIY)

Kredit

Bagikan