Pelangi Investasi

user
Danar W 07 Desember 2022, 20:30 WIB
untitled

Krjogja.com - MENURUT Arsyad (2021), salah satu hal penting dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi adalah investasi, baik investasi pemerintah melalui APBN (belanja modal) dan pinjaman pemerintah asing maupun investasi swasta dalam negeri dan luar negeri. Pembentukan modal melalui investasi dipandang sebagai pengeluaran yang akan menambah kesanggupan suatu perekonomian untuk menghasilkan produk dan sebagai pengeluaran yang akan menambah permintaan efektif masyarakat.

Pentingnya Investasi Sektor Pariwisata

Menurut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), untuk menarik lebih banyak investor agar berperan dalam membangun negara, pemerintah telah mengambil berbagai langkah yang diperlukan untuk mempercepat proses administrasi dengan menjamin kepastian pemberian izin, kemudahan akses, transparansi, dan ketepatan waktu, termasuk insentif fiskal dan nonfiskal yang dimaksudkan untuk meningkatkan realisasi investasi, pertumbuhan ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja. Di samping itu, pemerintah mempercepat berbagai program pembangunan dengan menitikberatkan pada percepatan transformasi ekonomi melalui peningkatan nilai tambah sektor unggulan ekonomi, salah satunya adalah pariwisata. Pengembangan investasi sektor pariwisata nasional dalam mendatangkan kunjungan wisatawan mancanegara dapat menciptakan pemasukan devisa negara dan menumbuhkan industri tidak langsungnya serta memberikan pendapatan bagi masyarakat setempat melalui penyerapan tenaga kerja.

Pelangi Investasi Sektor Pariwisata

Pelangi investasi sektor pariwsiata dapat dimaknai dari jenis investasi PMA/PMDN, asal negara, tujuan investasi, dan jenis investasi per subsektor sektor pariwisata. Nilai investasi sektor pariwisata sebelum pandemi (2019) sebesar Rp20,91 triliun, yang meliputi kontribusi PMA sebesar 59,24% dan PMDN sebesar 40,76%. Sebelumnya, dalam kurun waktu 3 tahun (2015-2017), kontribusi PMA terhadap sektor pariwisata sebesar 77% dan kontribusi PMDN sebesar 23%. Berarti, kontribusi PMA menurun dan PMDN meningkat. Untuk penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp2,94 triliun dari asal negara antara lain Singapura sebesar Rp1.494,49 miliar, Inggris Rp202,26 miliar, dan Prancis Rp144,74 miliar.

Adapun beberapa jenis usaha yang menjadi tempat penanaman adalah hotel bintang Rp1.335,31 miliar, restoran dan penyediaan makanan keliling Rp754,75 miliar, serta penyediaan akomodasi jangka pendek lainnya Rp468,21 miliar. Tiga besar tujuan PMA ke DKI Jakarta Rp1.083,86 miliar, Bali Rp716,40 miliar, dan Nusa Tenggara Barat sebesar Rp410,35 miliar. Sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat mencapai Rp11,96 triliun dengan hotel bintang Rp6.508,18 miliar, kawasan pariwisata Rp2.860,11 miliar, dan penyediaan minuman Rp882,33 miliar menjadi yang tertinggi dari segi jenis usaha. Investasi terbesar PMDN tertuju pada tiga daerah, yakni dari Banten Rp2.512,80 miliar, DKI Rp1.902,22 miliar, serta Jawa Timur Rp1.511,49 miliar.

Realisasi investasi di sektor pariwisata selama tahun 2017 sampai tahun 2021 mencapai Rp 106,3 triliun. Jika dirinci menurut wilayah, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) memberikan proporsi terbesar yaitu 39%. Investasi sektor pariwisata di Pulau Jawa mencapai 36,7%, diikuti Sumatera (17%), Sulawesi (4%), dan Kalimantan (3%). Investasi sektor pariwisata berkontribusi terhadap realisasi investasi nasional sebesar 3,36% meningkat dari periode sebelumnya yang sebesar 3,03%.

Strategi Pilihan

Penguatan kinerja pariwisata melalui pelangi investasi sektor pariwisata menjadi media penguatan strategi perekonomian daerah yang dapat diarahkan untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendorong berlanjutnya perbaikan ekonomi. Potensi investasi sektor pariwisata domestik dapat dioptimalkan dengan beberapa strategi, seperti 1) memfokuskan pergerakan wisnus pada provinsi tertentu dan 2) mempercepat pengembangan lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) sebagai bagian dari sepuluh Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP). (Dr. Rudy Badrudin, M.Si. Dosen Tetap STIE YKPN Yogyakarta, Pengurus ISEI Yogyakarta, dan Peneliti Senior PT. Sinergi Visi Utama)

Kredit

Bagikan