Tes Online CPNS Dosen, Rugikan PT Seni

PEMERINTAH kembali membuka pendaftaran seleksi atau tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) bagi dosen secara online di perguruan tinggi (PT) Seni. Keterbukaan dan transparansi demi mengikis unsur nepotisme, salah satu alasan tes CPNS secara terbuka. Siapa pun boleh mendaftar sepanjang memenuhi syarat dan kriteria lembaga pemerintah yang ditunjuk.

Tak heran, ribuan pelamar mendaftar jadi dosen serta mengikuti tes Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) secara online. Sekalipun bernilai positif, tes online CPNS merugikan PT Seni karena berdampak tidak tercapainya Kompetensi Kesenimanan calon dosen yang diinginkan program studi (prodi).

Mengapa demikian? Pemerintah lebih menekankan kelolosan SKD daripada Kompetensi Kesenimanan calon dosen. Banyak kasus jika SKD-nya lolos, umumnya diterima di PT Seni yang bersangkutan meskipun hasil tes Kompetensi Kesenimanannya jelek.

Namun sebaliknya, jika tes Kompetensi Kesenimanannya bagus, akan tetapi tes SKD-nya kurang, dipastikan tidak lolos. Ketidakadilan Hal ini menimbulkan ketidakadilan terhadap Kompetensi yang diinginkan prodi.

Kompetensi Kesenimanan PT Seni telah diabaikan dengan Kompetensi Dasar Materi Umum. Padahal, PT Seni memiliki dua tugas yaitu mencetak seniman berkualifikasi sarjana dan sarjana berkualifikasi seniman.

Pemerintah semestinya memahami, lahirnya akademisi seni berawal dari kesenimanan terlebih dahulu. Adanya PT Seni se-Indonesia berawal dari adanya para seniman yang memilki kompetensi dan andal dalam bidangnya.

Proses pencapaian Kompetensi Kesenimanan jauh lebih panjang daripada pencapaian akademik. Untuk menjadi Sarjana, empat atau enam tahun sudah cukup.

Akan tetapi, untuk mencapai tingkat kesenimanan yang mumpuni, misalnya dalam tari, karawitan, teater, pedalangan, jelas tidak akan cukup. Para Empu dan Maestro, mereka bisa dikatakan belajar sejak lahir untuk mencapai kesenimanan.

BERITA REKOMENDASI