‘Ayun-ayun Negeri’ Bakal Meriahkan Jogja Netpac Film Festival ke-15

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sebuah film dengan konsep teater musikal karya sineas Garin Nugroho, ‘Dongeng Kala Pandemi : Ayun-ayun Negeri’ diputar di Kedai Kebun Forum Yogyakarta, Minggu (29/10/2020). Pemutaran film hasil kolaborasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Yogya itu menjadi salah satu rangkaian perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2020.

Rencananya film sutradara Daun Di Atas Bantal itu bakal ditayangkan luas untuk publik pada satu hari jelang Hari Anti Korupsi Sedunia 8 Desember 2020 nanti. Melalui kanal Youtube KPK dan TVRI pukul 19.00 WIB.

“Dongeng dan festival adalah perpaduan seni melawan korupsi. Korupsi harus dilawan dengan berbagai cara,” kata Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK, Giri Suprapdiono.

Giri mengatakan perlawanan korupsi dengan seni, artinya halus namun menukik, tajam namun tak melukai, mengasah hati untuk nurani, menanamkan nilai diri tanpa menggurui, adalah strategi baru pendidikan KPK agar insan negeri tidak ingin korupsi. Pendekatan baru, selain OTT dan pengembalian aset hasil korupsi yang seksi.

“Pemberantasan korupsi bukan sekedar menanamkan ketakutan melalui OTT, juga membangun sistem dengan pencegahan, namun sangat membutuhkan strategi pendidikan agar tidak ingin korupsi, enggan korupsi karena kuat menahan godaan dalam kesendirian,” katanya.

Dongeng karya Garin Nugroho adalah sebuah kisah menjahit sejarah korupsi sejak jaman sebelum merdeka. Seniman yang terlibat di dalamnya adalah seniman yang paham keresahan negeri karena terayun ayun karena korupsi. Bagaikan keledai yang terjerumus dalam ke lubang yang sama. Dongeng ini mengingatkan kembali.

Karya seni yang baik mengajarkan pemirsanya untuk mampu membangun nuraninya kembali agar mampu memimpin dirinya sendiri (Self Mastery) berkaca pada perilaku aktornya dan nilai hidup di dalamnya.

Korupsi terjadi karena buruknya sistem, dan pribadi yang lemah integritasnya-memimpin dirinya sendirinya pun tidak mampu. Dongeng ini mengajarkan dan menginspirasi dengan caranya sendiri.

Berharap karya ini akan mencerahkan bangsa, khususnya dunia pendidikan dan dunia antikorupsi. Mata Tuhan akan selalu melihat karya seni yang indah seperti dongeng ini, Karena Tuhan itu menyukai keindahan.

Sutradara Garin Nugroho mengatakan di saat pandemi, menjadi tantangan mengelola segalanya daring atau online.

Terlebih fenomena esensi panggung dalam kaitannya dengan film. Di sisi lain, sungguh tidak mudah mengangkat tema serius soal politik dan sosial berkait sejarah dalam panggung. Maka teater musikal ini menggabungkan antara pantun, tonil hingga broadway ala Jogja. “Kultur nasi campur sebagai esensi penciptaan,” katanya.

Sinopsis film teater musikal ini mengkisahkan Juru Pengarah Perempuan yang ingin menceritakan riwayat Indonesia dari Era Revolusi Industri 1.0 Jaman Moi Indie hingga era sekarang ini. Juru Pengarah didampingi Juru Naskah yang diam-diam mencintainya.

Pada akhirnya, Jura Pengarah Perempuan itu memahami, bahwa di setiap revolusi teknologi dan industri tidak menjadikan masyarakat sipil yang sehat, produktif dan kritis. Sejarah tragedi negeri seakan berulang terjadi di setiap revolusi teknologi industri. Akhirnya, ke dua sosok anak muda memutuskan meninggalkan panggung, menjelajahi negeri untuk mendengar suara rakyat di sudut negeri.
(*)

BERITA REKOMENDASI