Cholid Mahmud Ingatkan Masyarakat untuk Selalu Mengamalkan Pancasila

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pancasila rumusan PPKI tanggal 18 Agustus 1945 sebagai konsensus nasional para pendiri bangsa hendaknya tidak direduksi menjadi sekuleriatik sehingga dipertetangkan dengan niali-nilai agama. Para pendiri bangsa dan negara ini merupakan tokoh nasional maupun ulama yang sangat arif dan berjiwa besar menyepakati rumusan Pancasila tersebut.

“Siapapun termasuk rezim pemerintahan kapan pun, apabila mengeser dan mereduksi dasar negara Pancasila terbukti dalam sejarah pasti membawa pada keterpurukan pada kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Akhirnya, bukan kemajuan dan kemakmuran yang dicapai, tetapi penghamburan enerji anak bangsa serta percekcokan nasional dan keterbelahan dalam kehidupan bernegera,” tegas anggota MPR RI dari DIY, Cholid Mahmud dalam acara Sosialisasi Tata Kehidupan berbangsa dan Bernegara MPR RI di Ruang Serbaguna Kantor DPD RI DIY, Minggu (07/02/2021).

Pancasila telah menjadi harga mati bagi bangsa ini yang tak bisa ditawar lagi. Oleh karena itu tugas generasi sekarang yaknk berjuang merealisasikan nilai-nilai Pancasila itu agar teramalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara secara konsisten, sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

“Oleh karena itu, semua komponen bangsa perlu menyadari kinilah saatnya kita beraksi mengamalkan niali-nilai Pancasila hasil konsensus pendiri bangsa kita dengan konsisten. Bukan hanya dalam retorika kata-kata semata, tetapi dalam kebijakan, kebersikapan, dan dalam perbuatan nyata sehari-hari kita,” jelasnya.

Sementara itu alumnus Program Pendidikan Lemhanas (PPRA) Angkatan LX tahun 2020, HM Wajdi Rahman menguraikan, sila pertama Pancasila sejatinya menuntut setiap warga bangsa mengakui Tuhan yang Maha Esa sebagai pencipta. Konsekuensinya yaitu Pancasila menuntut umat beragama dan berkepercayaan untuk hidup rukun walaupun berbeda keyakinannya.

“Sila kedua mengajak masyarakat untuk mengakui dan memperlakukan setiap orang sebagai sesama manusia yang memiliki martabat mulia serta hak-hak dan kewajiban asasi. Dengan kata lain, ada sikap untuk menjunjung tinggi martabat dan hak-hak asasinya atau bertindak adil dan beradab terhadapnya,” terangnya.

Selanjutnya sila ketiga menumbuhkan sikap masyarakat untuk mencintai tanah air, bangsa dan negara Indonesia dan sikap solider serta loyal terhadap sesama warga negara. Sila keempat mengajak masyarakat untuk bersikap peka dan ikut serta dalam kehidupan politik dan pemerintahan negara, paling tidak secara tidak langsung.

“Adapun sila kelima mengajak masyarakat aktif dalam memberikan sumbangan yang wajar sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing kepada negara demi terwujudnya kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir dan batin selengkap mungkin bagi seluruh rakyat Indonesia” pungkasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI