Dokumen Palsu Dipakai untuk Ajukan Kredit

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Kasus dugaan penipuan jual beli tanah dan bangunan dengan surat palsu menjerat GAW (31). Dengan pemalsuan yang dilakukan itu terdakwa berhasil mengajukan kredit ke bank dengan jaminan tanah dan bangunan. Perkara itu disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, Senin (19/4/2021)

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Bambang Suhermoyo SH. Pada sidang itu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kliwon Sugiyanto SH mengajukan dua orang saksi masing-masing Agus Proklamanto dan Bambang Sunarta, sebagai ahli waris dan kuasa jual tanah serta bangunan di Demangan Yogya.

Saksi Agus menuturkan, terdakwa sepakat membeli tanah dan bangunan itu Rp 5,25 miliar dengan pembayaran 5 tahap. Sertifikat balik nama dititipkan kepada Notaris Eduard Ardyanto SH sampai lunas.

Namun kenyataannya hingga saat ini tidak ada proses pelunasan, bahkan oleh terdakwa tahun 2019 dijadikan agunan kredit koperasi sebesar Rp 4 miliar, tanpa saksi Agus menerima uang sedikitpun, terdakwa juga tidak mengangsur hingga koperasi.

Bambang Sunarta dalam kesaksiannya juga mengatakan, Juni 2018 mendapat info tanah dan bangunan rumah SHGB milik Magdalena Hartati di Jalan Dr Wahidin 46 Klitren Yogyakarta dijual cepat dengan harga Rp 1,2 miliar. “Pembayaran tunai Rp 600 juta dan transfer Bank Panin Rp 600 juta, dengan AJB di depan notaris Eduard, Bu M Hartati dan anaknya,” tuturnya.

Bambang mengaku kaget, ketika jual beli yang dilakukan kemudian dinyatakan gugur karena tanah dan bangunan tersebut ternyata telah dijual kembali pada terdakwa dengan harga Rp 3,25 miliar tanpa dia pernah mendapat pengembalian uang Rp 1,2 M yang sudah ia bayarkan.

Pemalsuan yang dilakukan terdakwa berupa antara lain Izin Usaha, Izin Gangguan sebagai syarat pinjaman Rp 3 miliar yang digunakan untuk pembelian tanah milik saksi Magdalena Hartati. Termasuk juga memalsukan printout rekening bank dengan saldo yang menunjukkan kemampuan keuangan terdakwa yang meyakinkan.

Kenyataannya terdakwa tidak pernah mengangsur kredit di bank hingga kemudian muncul laporan polisi ke Magdalena Hartati dan Notaris Eduard Ardyanto SH. Keduanya mengaku dirugikan dengan fitnah yang keji, kesalahan terdakwa dibelokkan supaya lepas.

“Padahal klien kami Magdalena Hartati juga menjadi korban karena uang penjualan tanah bangunannya diminta kembali oleh terdakwa Rp 1,85 M dengan iming-iming investasi ternyata cek kosong ditambah uang pengembalian Rp 600 juta untuk saksi Bambang S tidak diberikan oleh terdakwa,” ujar kuasa hukum pelapor, Anindya SH dari Heru Sulistio SH. (Van)

BERITA REKOMENDASI