Edukasi Masyarakat Tentang Pentingnya Perencanaan Reproduksi Keluarga, RSU UAD Gelar Baksos KB

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Dalam rangka menyongsong Hari Jadi Kabupaten Sleman yang ke-105, sekaligus memperingati Hari Perempuan Internasional, Rumah Sakit (RS) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menggelar Bakti Sosial (Baksos) Keluarga Berencana (KB) untuk pemasangan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim atau Intra Uterine Device (IUD) dan Implan (susuk).

Kegiatan yang diikuti oleh kurang lebih 70 akseptor KB ini berlangsung selama 2 hari, Rabu dan Kamis (24-25/3/2021). Mereka yang sebagian besar warga Ngemplak Wedomartani Sleman dan daerah lainnya ini akan mendapatkan Pelayanan KB dengan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Pasangan Usia Subur (PUS) yang hadir bisa mendapatkan Pelayanan KB Pasang Baru, Ganti Cara, atau Pasang Ulang.

Direktur RSU UAD dr Hj. Irni Sofiani, MMR. menuturkan, kegiatan untuk mendukung Program ‘Indonesia Hebat Dengan Keluarga Berencana’ ini, bekerjasama dengan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) DIY, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sleman, dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Sleman Timur.

“Melalui kegiatan ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kontrasepsi untuk mewujudkan kesehatan reproduksi. Dan, terhindar dari kehamilan di usia yang terlalu muda, usia terlalu tua, jarak kehamilan terlalu dekat, dan terlalu banyak,” ujar dr. Irni, di RS UAD Dusun Karangsari, RT.06/RW.31, Gedongan Lor, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, Rabu (24/03/2021).

Diakui dr. Irni, di masa Pandemi Covid-19 masyarakat cenderung membatasi akses terhadap fasilitas kesehatan (faskes) untuk Pelayanan KB sehingga masyarakat ada kendala untuk melanjutkan program kontrasepsinya. Untuk itu, RS UAD sebagai lembaga di bawah naungan Muhammadiyah ingin berkontribusi dalam memudahkan akses masyarakat terhadap kontrasepsi dan membantu program pemerintah terkait pengendalian jumlah penduduk melalui upaya perencanaan reproduksi ini. Agar orang tua bisa lebih terencana dan fokus dalam mendidik anaknya sehingga bisa tercipta generasi yang lebih berkualitas, dan juga akan mendukung ketahanan keluarga.

“Dari sisi kesehatan reproduksi, kehamilan yang terencana juga akan berdampak lebih bagus bagi ibu. Lini Pelayanan KB di RS UAD sendiri beragam jenisnya dan melayani setiap hari selama 24 jam. Mulai dari Injeksi, Suntik KB 1-3 bulan, Pil KB, Kondom dan Konsultasi KB. Juga Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti Implan, IUD. Dilayani langsung oleh Bidan, dokter umum dan Dokter wanita kami, dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi ( Kebidanan dan Kandungan ) dr Diana Fitri, SpOG,” ungkap dr. Irni.

Sementara itu, Kepala Dinas DP3AP2KB dr. Mifilindati Nuraini, M.Kes. mengharapkan, persentase kesertaan KB aktif di Sleman bisa selalu terjaga, melalui dukungan fasilitas kesehatan primer seperti Klinik, Bidan Praktek Mandiri (BPM) dan RS se-Kabupaten Sleman, yang menjadi jejaring atau mitra untuk Pelayanan KB.

“Angka Unmeet Need juga bisa ditekan serendah mungkin. Yaitu PUS yang ingin mengatur kehamilannya namun belum menggunakan alat kontrasepsi atau belum ber-KB. Mengatur itu bisa berarti tidak menginginkan, menunda, membatasi, atau menjarangkan kehamilannya,” imbuh dr. Linda.

Menurut dr. Linda, Program Baksos KB Gratis seperti ini juga bisa lebih mendekatkan pelayanan pemerintah dengan masyarakat. Terutama guna menyukseskan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) dari Perwakilan BKKBN DIY.

“Keluarga yang terencana, sudah pasti akan meningkatkan ketahanan keluarga dan kesehatan reproduksi. Maka ada anjuran seperti ‘2 Anak Lebih Sehat’ dan mendorong perempuan yang ingin hamil harus minimal berusia 20 tahun dan maksimal 35 tahun,” terang dr. Linda.

dr. Linda sudah memastikan ketersediaan stok dan bahan alat dan obat kontrasepsi (alokon) mencukupi untuk setahun ke depan. Angka Putus Kepesertaan KB (Drop Out) untuk KB Suntik Ulang memang sempat mengalami kenaikan saat Pandemi Covid-19. Yaitu periode Maret-Juli 2020, ada 1.400 Akseptor KB di Sleman yang tidak melakukan Suntik Ulang.

“Namun, dengan inovasi dan dukungan dari seluruh faskes, Angka Pemakaian Kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) bisa terjaga dengan baik sampai dengan akhir tahun 2020. Bahkan banyak yang beralih ke MKJP, baik itu MOW maupun MOP,” jelas dr. Linda.

Sedangkan untuk Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), di Sleman lebih terkait pada pentingnya sosialisasi Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP) untuk mencegah terjadinya Pernikahan di Bawah Umur.

“Melalui Pendataan Keluarga yang akan dilakukan 1 April hingga 31 Maret 2021 nanti, akan bisa terlihat Angka Kelahiran Menurut Umur atau Age-Specific Fertility Rate (ASFR). Ini untuk memotret berapa jumlah perempuan yang melahirkan di usia 15-19 tahun,” kata dr. Linda.

Seluruh kegiatan dilaksanakan dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan Pengendalian dan Pencegahan Penularan dan Penyebaran Covid-19. (*)

RS UAD gelar Baksos KB untuk pemasangan IUD dan Implan.

UAD

BERITA REKOMENDASI