Kasus Hukum Dua Warga Getasan Dinilai Penuh Kejanggalan

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Perkara hukum yang menimpa Rohmat Widodo (34) dan Sapto Widiyanarko (34), keduanya warga Dusun Getasan Desa Glodogan Klaten Jawa Tengah (Jateng) mengundang simpati banyak kalangan. Aksi heroik keduanya yang dinilai berhasil menggagalkan pencurian di kampung mereka dianggap sebagai pelopor keamanan di tengah masyarakat. Namun bukannya penghargaan yang diperoleh, Rohmat dan Sapto malah dituduh melakukan pengeroyokan sehingga dijebloskan ke penjara.

Hampir 3 bulan keduanya mendekam di sel tahanan. Mereka juga terancam bakal berdiam lebih lama lagi di hotel prodeo jika nantinya vonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Klaten memutus bersalah dan mengabulkan tuntutan Jaksa dengan penjara 6 bulan.

Siswanti (32) istri Rohmat mengatakan, semenjak suaminya ditahan tak ada yang menafkahi dua orang anaknya. Ia sendiri tak bekerja, sehinggah Rohmat yang keseharian mencari nafkah sebagai tukang las menjadi satu-satunya tulang punggung bagi keluarga.

“Selama suami saya ditahan, tidak ada yang menafkahi. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari termasuk makan, kami dibantu keluarga dan warga sekitar,” kata Siswanti saat menerima bantuan dan masyarakat yang diterimanya di kantor DPD Federasi Advokat Republik Indonesia (Ferari) DIY kawasan Nologaten Depok Sleman, Jumat (25/12/2020).

Siswanti yang kini tengah hamil 7 bulan juga dikhawatirkan bakal melahirkan anak ketiganya tanpa ditemani sang suami di sisinya. Atas kondisi tersebut Siswanti telah berupaya untuk mengajukan penangguhan penahanan dan siap menjadi penjamin atas suaminya, namun permintaan itu tak pernah dikabulkan.

Nasib yang sama juga dirasakan istri Sapto, Susi Handayani (34). Ia mengaku setiap hari si bungsu berusia balita selalu menanyakan keberadaan ayahnya, Susi pun terpaksa harus berbohong agar anaknya itu tak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi terhadap Sapto.

“Anak saya yang bungsu memang dekat sekali dengan bapaknya. Saya salalu mengatakan kalau bapak sedang bekerja mencari uang untuk adek. Saya tidak tega kalau dia sampai menangis mencari keberadaan bapaknya,” ungkap Susi.

Siswanti maupun Susi yakin jika suami mereka tak pernah melakukan perbuatan seperti yang dituduhkan. Menurutnya banyak saksi dari warga yang mengetahui jika suami mereka tidak menganiaya apalagi bersama-sama melakukan tindak pengeroyokan dalam kasus ini.

Sementara itu kuasa hukum Rohmat dan Sapto, Rohmidhi Srikusuma SH MH menegaskan untuk kesekian kalinya seseorang tak bersalah harus merasakan hukuman atas perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. Jika nanti Rohmat dan Sapto diputus bersalah maka menurut Rohmidhi hal tersebut akan menjadi preseden buruk bagi supremasi hukum di tanah air.

“Ini sangat mencederai hukum di Indonesia. Bagaimana bisa seseorang tidak melakukan suatu tindakan namun harus mempertangungjawabkannya secara hukum. Ini tidak boleh terjadi dan hakim harus membebaskan kedua klien kami, karena dari awal perkara ini sudah cacat hukum,” tegasnya.

Rohmidhi menceritakan, petaka bagai Rohmat dan Sapto terjadi pada akhir Januari 2019 silam. Pada malam itu Rohmat dan Sapto memergoki pria yang kemudian diketahui bernama Yuniadi Isnianto (27) alias Londo memasuki rumah salah seorang warga lalu keluar dengan menuntut satu unit sepeda.

Rohmat dan Sapto lalu bergegas mengajarnya dengan motor dan berhasil menghentikan di depan sekolah dasar desa setempat yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kejadian. Ketika disuruh berhenti, orang tersebut tak menghiraukan sehingga memaksa Rohmat yang membonceng di belakang menendang sepeda tersebut dan membuat Londo terjatuh lalu segera bangun melarikan diri.

Sapto meminta Rohmat tetap berada di tempat itu untuk mengamankan sepeda, sedangkan ia kembali mengejar menggunakan motor. Kebetulan saat itu ada dua pemuda tak dikenal dengan berboncengan motor berada di lokasi, mereka turut mengejar dan berhasil menangkap Londo di Lapangan Glodokan lalu memukuli kemudian bergegas pergi.

Usai kejadian itu orang tua Londo membuat laporan di Kepolisian. Namun yang mengherankan dalam proses penyelidikan petugas menetapkan Rohmat dan Sapto sebagai tersangka pengeroyokan, sebagaimana diatur dalam pasal 170 KUHP.

Menurut Rohmidhi, dalam berita acara pemeriksaan (BAP) disebutkan jika Londo tidak melakukan pencurian. Saat malam kejadian itu Londo meminjam sepeda untuk membeli rokok namun di tengah jalan dikeroyok oleh Rohmat dan Sapto. (Van)

BERITA REKOMENDASI