Kemarau Basah dan Kebijakan Cukai Perburuk Nasib Petani Tembakau

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Kebijakan pemerintah terkait tembakau dinilai tak menguntungkan petani. Apalagi yang terbaru dan bisa dibilang klasik adalah kebijakan soal cukai rokok. Pemerintah dianggap hanya memandang rokok dari sisi industri saja tanpa memperhatikan nasib petani.

Ketua Umum DPN Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Soeseno mengaku cukai yang dikenakan terhadap rokok akan langsung berdampak pada mata rantai tembakau sejak hulu sampai hilir. Mulai dari budidaya tanaman tembakau hingga pemasaran rokok, yang di dalamnya ada unsur petani, buruh dan karyawan pabrik.

“Tekanan yang dirasakan terhadap industri hasil tembakau (IHT) memang semakin berat. Dari mata rantai IHT, mata rantai paling hulu yakni petanilah yang selamai ini paling tertekan,” kata Soeseno disela Munas IV APTI yang digelar di Sleman, Rabu (29/02021).

Soeseno memgungkapkan, kenaikan cukai naik akan mendorong naiknya harga rokok. Harga rokok kemudian akan menyebabkan prevalensi merokok turun sehingga serapan tembakau dari petani juga turun.

Ia menggambarkan peredaran rokok turun 10 persen dari 340 miliar batang produksi pabrik, maka akan turun 34 miliar batang. Jika 1 batang rokok butuh 1 gram tembakau, maka akan ada 34 ribu ton tembakau yang tidak akan terserap. “Kalau 1 hektar lahan menghasilkan 1 ton tembakau, berarti akan ada 34 ribu hektar area tanam yang tembakau hasil panennya tidak terbeli,” kata Seno.

Ketua DPD APTI DIY, Djuwari menambahkan harga jual tembakau hasil panen tahun ini sangat jatuh. Tembaku grade A hanya dihargai Rp 19 ribu/kg, grade B Rp 25 ribu/kg, bahkan harga tembakau yang paling bagus yakni grade C hanya Rp 47 ribu/kg saja. “Seharusnya untuk grade C setidaknya sudah laku di atas Rp 70 ribu/kg,” ungkapnya.

Jatuhnya harga tembakau saat ini menurutnya juga dipengaruhi cuaca kemarau basah yang melanda. Turunnya hujan sejak beberapa minggu terakhir sejak bukan Agustus menjadi panen tembakau tak dapat maksimal dan kualitas juga sangat menurun.

Kendati demikian para petani tembakau di DIY tetap berusaha bertahan. Mereka berharap kondisi ini akan segera membaik dan pemerintah dapat memberikan kebijakan-kebijakan yang dapat menguntungkan petani.

Petani tembakau dari Temanggung, Siamin menambahkan harga tembakau dari daerah di lereng Sindoro dan Sumbing tahun ini juga jatuh. Padahal, daun tembakau dari Temanggung merupakan yang terbaik dan selalu masuk di pabrik-pabrik rokok besar di tanah air.

“Tembakau dengan kualitas terbaik yang dipetik saat ini hanya laku dengan harga Rp 45 ribu/kg. Padahal, biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam tembakau mencapai Rp 40 juta per hektar,” ungkapnya. (Van)

BERITA REKOMENDASI