KKN UAD Dampingi UMKM Serabi Kocor Khas Yogyakarta

Editor: Ivan Aditya

YOGYA. KRJOGJA.com – Salah satu program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di Tegalpanggung, Danurejan, Yogyakarta adalah pendampingan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Program tematik ini dilaksanakan oleh mahasiswa KKN UAD periode 75 Unit III.B.3, Selasa 7 Desember 2021 lalu, dengan didampingi oleh Erni Gustina, S.KM., M.PH sebagai Dosen Pembimbing Lapangan.

Pada kegiatan pendampingan UMKM ini, mahasiswa mengangkat makanan khas Yogyakarta yaitu Serabi kocor.

“KKN UAD unit III.B.3 memberikan pendampingan terkait peningkatan mutu serta kualitas pengemasan serabi kocor,” ujar Afif Candra Rizaldi selaku Ketua Unit III.B.3 KKN UAD

Serabi kocor merupakan camilan khas Yogyakarta, yang mempunyai arti kuah.

Rina selaku pemilik UMKM serabi kocor merupakan generasi kedua yang sudah berjualan serabi kocor kurang lebih selama 30 tahun yang lalu dan hingga saat ini masih berjalan.

Resep pembuatan serabi kocor merupakan resep turun temurun dari keluarga Rina.

Pembuatan serabi kocor menggunakan bahan-bahan seperti gandum, kelapa, garam, terigu dan sedikit tepung beras.

Sedangkan kuahnya menggunakan campuran dari santan dan gula jawa.

Ciri khas serabi ini terletak pada campuran kelapa, dimana campuran kelapa tersebut menambah cita rasa khas dari serabi ini.

Dalam pembuatannya, Rina tidak menambah rasa-rasa yang lain karena dapat membuat eneg.

“Pembeli belum pernah merasakan serabi seenak buatan saya karena masih menggunakan bahan asli dan tidak membuat eneg,” kata Rina.

Dalam pembuatan serabi kocor menggunakan anglo dan tidak menggunakan minyak.

Teknik melepas serabi dari anglo juga terkesan unik yaitu menggunakan alat memasak (sutel) yang dibalik untuk memudahkan melepas serabi dari anglo.

Adonan serabi yang telah dibuat harus cepat diselesaikan dalam waktu 2 jam karena jika lebih dari 2 jam rasanya sudah tidak enak lagi.

Pengemasan camilan yang sudah menjadi warisan keluarga Rina tersebut menggunakan mika atau dibungkus kertas minyak serta kuahnya dibungkus menggunakan plastik.

Satu mika atau satu bungkus berisi dua serabi dan kuah.

Pengemasan serabi kocor tersebut harus menunggu serabi benar-benar dingin karena kalau tidak, serabi kocor akan cepat basi.

Serabi kocor ini dijual dengan cara menggunakan gerobak. Selain berkeliling, Rina juga menerima pesanan di rumah. Rina menjual serabi kocor dengan harga khusus Rp4.000 untuk tetangga dan warga sekitar.

Selain serabi kocor, dia juga menjual jenang, nasi serta sate usus atau sate hati. Meskipun berjualan camilan yang lain juga, Rina tetap konsisten untuk membuat dan menjual serabi kocor.

Afif menuturkan, Pandemi Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) yang telah melanda Indonesia sejak 2 Maret 2020 yang lalu, berdampak juga terhadap penjualan serabi kocor.

Sebelum Pandemi COVID-19 Rina bisa menjual minimal 60 serabi dalam sehari.

Biasanya saat puasa penjualannya pun ramai dan sangat menjanjikan, pembuatannya bisa sampai 6 anglo saat puasa dan di hari biasa 4 sampai 5 anglo.

Saat Pandemi COVID-19 melanda, penjualan serabi kocor pada bulan puasa tahun kemarin masih ramai karena dibantu dengan berjualan secara online.

“Akan tetapi pada bulan puasa tahun ini, penjualannya sangat sepi karena Rina tidak mau berjualan secara online dengan alasan capek dan tidak menyediakan stok serabi kocor tersebut,” ungkap Afif.

Afit menyampaikan, kunci penjualan yang selalu dipegang oleh Rina yaitu tetap disiplin, tepat waktu, serta konsisten dalam menggunakan resep yang telah beliau dapat dari generasi sebelumnya.

“Saya tidak mau menjual serabi kocor yang kemarin-kemarin yang tidak habis atau yang dimasukkan kulkas karena serabi kocor ini sudah menjadi warisan dan ikon saya, maka dari itu saya tetap menjaga kualitas serabi yang saya buat dan saya jual,” kata Rina.

Serabi kocor atau serabi khas Yogyakarta, kata Afif, biasanya dapat dikonsumsi sesuai dengan selera konsumen, jika ingin manis bisa ditambah dengan kuah, lalu semisal mau rasa original bisa makan serabinya saja.

“Serabi kocor yang telah berjalan dua generasi tersebut merupakan warisan yang sampai sekarang ini masih dijalankan secara konsisten serta senantiasa menjaga keaslian rasanya,” urai Afif. (*)

BERITA REKOMENDASI