Menjadi Mitra Kerja BKKBN, Anggota DPR RI Sukamto Sosialisasikan Pencegahan Stunting

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – H. Sukamto, anggota DPR RI Komisi IX turun ke daerah pemilihannya untuk menyerap aspirasi masyarakat DIY. Sebagai anggota Komisi IX dan mitra kerja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sukamto ingin mengajak masyarakat untuk peduli pentingnya pencegahan stunting yang secara nasional angkanya cukup tinggi mencapai 27,67% di 2019.

Untuk itu, bertempat di Balai Aspirasi Warga H. Sukamto di Jalan Kaliurang Sleman, bersama dengan BKKBN diselenggarakan Kegiatan Prioritas Nasional Pembangunan Keluarga Melalui Sosialisasi Pencegahan Stunting, Sabtu (27/11/2021).

Dalam kegiatan ini hadir para tokoh masyarakat dan kaum muda yang tergabung dalam Generasi Berencana (Genre). Menyadari bahaya stunting Sukamto mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri dengan baik sejak sebelum menikah agar setelah menikah kondisi kesehatan fisik mereka aman untuk bisa hamil sehingga bayi yang akan dilahirkan bebas dari resiko stunting.

Sekretaris Utama BKKBN Drs. Tavip Agus Rayanto, MSi. menjelaskan stunting adalah kondisi fisik yang pendek yang disertai penurunan kondisi kognitif (kemampuan berpikir) dan kesehatan umum. Bayi yang dilahirkan dalam kondisi ini saat tumbuh menjadi anak dan selanjutnya beranjak dewasa akan mengalami kondisi kesehatan yang buruk, intelegensi dan produktivitas rendah, dan menjelang masa tua akan rawan menderita penyakit degeneratif. Tentunya ini menurunkan ketahanan bangsa, demikian dikatakan Sestama.

“Maka kami sedang menyiapkan Program Elsimil, yang merupalan Aplikasi Siap Nikah Siap Hamil” jelas Tavip.

Nantinya tiga bulan sebelum menikah, calon penganti harus mengunduh aplikasi ini dan mengisikan data-data kesehatan seperti tinggi dan berat badan, lingkar lengan, kadar Hb dan riwayat serta data kesehatan lainnya, termasuk adakah kebiasaan merokok. Berdasarkan data yang diinput, aplikasi akan menampilkan kondisi kesehatan calon pengantin apakah sudah siap untuk hamil, dan jika kondisi ideal belum tercapai aplikasi akan menyarankan upaya yang bisa dilakukan. Termasuk saran menunda kehamilan.

“Jangan cemas gagal menikah gara-gara aplikasi Elsimil ini. Penggunaan aplikasi ini bukan sebagai syarat menikah,” Demikian Tavip menjawab kekhawatiran salah satu peserta sosialisasi.

Selain itu, lanjut Tavip, BKKBN juga menginisiasi pembentukan Tim Pendamping Keluarga sampai ke tingkat desa dan padukuhan. Tim ini terdiri dari tiga unsur yaitu PKK, Bidan, dan Kader. Tugasnya adalah mendampingi keluarga dan calon pengantin rawan stunting.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan KB Sleman Dra. Suci Iriani Sinuraya Msi. dalam sambutannya melaporkan kondisi stunting di Sleman yang walau dalam kondisi pandemi berhasil menurunkan angka stunting menjadi 6,92% dari tahun lalu sebesar 7,24%. “Walau sudah di bawah target nasional (14% di tahun 2024, toleransi WHO 20%) kami tetap mengupayakan penurunan ke arah zero stunting” demikian dijelaskan Suci Iriani.

Kepala Perwakilan BKKBN Daerah Istemewa Yogyakarta (DIY) Shodiqin SH, MM menyampaikan penghargaan kepada anggota Komisi IX DPR RI H. Sukamto sebagai mitra kerja BKKBN dalam budgeting dan pengawasan kegiatan BKKBN yang menaruh perhatian pada masalah penanganan masalah stunting, bahkan terjun langsung memberikan sosialisasi bersama kami BKKBN.

“Hal ini menambah semangat kami di DIY untuk menuntaskan target kinerja kami” kata Shodiqin. (*)

BERITA REKOMENDASI