Menjaga Keseimbangan Alam Merapi dengan Lobe-lobe

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Warga di kaki gunung Merapi di daerah kaliurang Sleman Yogyakarta punya tradisi unik untuk menjaga kehidupan yang harmonis di lingkungan hidup mereka. Tradisi itu digelar dalam Prosesi Adat Merti Lobe-lobe yang diwujudkan dalam menanam berbagai tumbuhan yang bisa bertahan hidup di ekosistem khas kawasan kaki Merapi.

Dalam tradisi Jawa, Merti Lobe-lobe merupakan upacara prosesi adat untuk menjaga keseimbangan alam dan menjaga tumbu-tumbuhan yang hidup di kawasan hutan Merapi. Buah Lobe lobe sendiri konon merupakan tanaman langka yang berasal dari luar Jawa yang bisa beradaptasi di lingkungan baru di lereng Merapi.

Buah Lobe Lobe merupakan buah yang disukai satwa monyet saat musimnya berbuah. Selain itu tumbuhan ini menjadi relung ekologi bagi berbagai spesies burung-burung di Merapi.

Menurut politisi perempuan PKB, Ani Martanti ST pohon Lobe merupakan tumbuhan yang masih bisa bertahan di hutan Merapi, bahkan saat terjadi erupsi Merapi tahun 1994 lalu. “Ia (pohon Lobe -lobe) mampu beradaptasi di lingkungan yang terbatas, tumbuhan ini kita lestarikan dengan prosesi adat agar menjadi pengingat generasi saat ini bagaimana menjaga ekosistem di Merapi,” ungkap Ani.

Dalam prosesi Merti Lobe warga secara bersama sama, membalut pohon lobe-lobe dengan kain jarik, yang menggambarkan bahwa kehidupan harus dirawat dari generasi ke generasi. Lobe-lobe menjadi simbol kearifan lokal yang kini dipertahankan.

Selain itu, pohon Lobe-lobe kemudian dipagari dengan bambu sebagai penanda agar menjaga pohon lobe tersebut. Selesai pemasangan kain jarik, warga Kaliurang kemudian menanam berbagai jenis tanaman buah buahan seperti alpukat, hingga jambu air.

Pohon-pohon buah ini khas Merapi, yang berguna untuk menambah populasi dan keanekaragaman vegetasi sehingga ujungnya bisa berdampak bagi peningkatan ekonomi masyarakat. “Bagi kami, tradisi untuk melestarikan tanaman langka menjadi bagian tak terpisahkan, sebab sebagai orang timur, peradaban kita mengajarkan hidup yang saling berkaitan antara manusia dengan lingkungannya,” ujar politisi perempuan ini.

Merti Lobe yang mentradisi sejak ratusan tahun kini dihidupkan kembali dengan rangkaian prosesi mulai dari pembukaan, sambutan pengurus pagar merapi, sambutan Ani Martanti sebagai Ketua Komisi A DPRD Sleman, dilanjutkan serah terima bibit pohon, kemudian sambutan Lurah dan diakhiri penanaman pohon serta doa bersama.

Salah satu penggiat komunitas Pagar Merapi, Yuswohadi menyebutkan Merti Lobe-lobe yang dilakukan melalui budaya khas warga lereng Merapi, diharapkan memberi harapan agar ke depan, bisa bersama sama memelihara alam sekitar dan meneruskan ke generasi berikut.

“Bagi masyarakat lokal Merapi, memelihara alam dengan menanam pohon pohon pada prosesi adat Merti Lobe diharapkan menjadi salah satu  atraksi wisata lingkungan, yang bisa dikembangkan sebagai wisata minat khusus, pohon Lobe-lobe sendiri merupakan tanaman langka yang buahnya bisa dimanfaatkan untuk pakan satwa seperti monyet yang banyak hidup di Hutan Merapi,” ungkap Yuswohadi.

Menjaga tumbuhan asli Merapi bisa dilakukan dengan menanam tumbuhan yang bisa hidup berdampingan namun tidak merusak keaslian hutan (Merapi), sekaligus bermanfaat untuk menjaga kelestarian ekosistem yg ada (lingkungan, satwa, air, udara),” pungkasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI