Menyadarkan Protokol Kesehatan Melalui Sekotak Makanan

Editor: Ivan Aditya

PAGI itu Waluyo (49) telah berada di pinggir jalan Malioboro Yogyakarta. Sambil duduk di atas becaknya, warga Sewon Bantul ini menatap sudut jalan protokol Kota Gudeg yang kala itu masih lengang. Tak banyak orang berada di kawasan itu, hanya beberapa diantara mereka saja nampak memulai aktivitasnya dengan bertarung melawan matahari pagi.

Topi kumal menutupi wajah Waluyo yang tak lagi muda, sesekali handuk kecil tipis tidak luput mendarat di muka untuk mengusap peluh pertamanya. Masker kain bergambar salah satu parpol yang didapatnya dari aksi pembagian gratis lima bulan silam masih setia dipakai untuk menutupi hidung dan mulutnya. Ia sadar hanya dengan masker itulah yang saat ini menjadi senjata ampuh baginya untuk mencegah diri dari penularan wabah Covid-19.

Seharian kemarin orderan narik becak yang ia dapat tak banyak. Ingin rasanya pria paruh baya ini menyalahkan keadaan, gara-gara Virus Corona yang mewabah membuat Malioboro tempatnya menggantungkan hidup menjadi sepi. Jangankan turis asing, wisatawan domestik saja bisa dihitung dengan jari.

“Sebelum Corona, narik becak lancar tapi setelah itu mulai sepi. Ini sudah lumayan, walau tidak banyak seperti dulu namun setidaknya satu atau dua penumpang masih bisa narik,” kata Waluyo.

Uang di dompet Waluyo hanya tinggal beberapa lembar bergambar pahlawan Mohammad Hoesni Thamrin saja. Bisa jadi pagi itu ayah satu anak tersebut harus berpuasa atau sejenak menahan lapar hingga ia dapat penumpang untuk mendapat tambahan rupiah guna membeli sarapan.

Namun gurat bahagia tiba-tiba tergambar dari wajah Waluyo saat melihat beberapa orang anggota Polisi dari Polresta Yogyakarta datang. Dengan membawa beberapa kantong plastik, para personel menuju ke sebuah lemari kaca yang terletak di samping jam tua yang berada di tepi jalan itu.

Segera mereka memasukkan boks berisi nasi di bagian atas lemari kaca tersebut. Pada bagian bawah diletakkan pula minuman air mineral kemasan gelas yang ditata rapih berikut sedotan plastinya. Tak perlu waktu semua sudah siap dan tinggal disajikan.

“Itu memang untuk kita dari Pak Polisi. Setiap pagi nasi kotak selalu disiapkan di tempat itu, sangat bermanfaat untuk kami pada masa sulit seperti ini,” kata Waluyo.

Waluyo segera bergegas mendatangi tempat dimana nasi kotak itu disiapkan. Walau antre, namun Waluyo dan pengemudi becak lainnya tetap menjaga jarak seperti apa yang telah dianjurkan oleh petugas.

Tak sampai 5 menit, seluruh nasi kotak dan minuman mineral ludes dibagikan kepada masyarakat. Tak memandang status sosial, siapapun boleh mengambil nasi di tempat itu. Bahkan tak jarang mereka menikmati bersama di pinggir trotoar Malioboro.

“Kami berharap apa yang dilakukan Pak Polisi akan terus dan tidak berhenti. Karena apa yang diberikan itu sangat kami harapkan,” ujarnya.

Program ini dinamakan ‘Polresta Berbagi’ yang mulai dilaksanakan pada awal Oktober lalu dan digagas langsung Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Purwadi. Lemari kaca ‘Polresta Berbagi’ diletakkan di dua titik, yaitu seputaran Teteg Malioboro dan sekitar Ngejaman.

Purwadi mengatakan, program ini lahir untuk menolong sesama apalagi di masa pandemi seperti sekarang. Bagi sebagian orang mungkin nasi kotak tidak begitu berarti, namun untuk mereka masyarakat menengah ke bawah makanan itu akan sangat dibutuhkan.

“Ini berawal dari kondisi pandemi yang tak berkesudahan. Perekonomian tidak stabil, pendapat masyarakat jelas menurun drastis. Di situlah kami ingin hadir dan membantu meringankan beban mereka,” kata Purwadi didampingi Kasubah Humas Polresta Yogyakarta, AKP Sartono.

Program ‘Polresta Berbagi’ ini tiap hari dilaksanakan. Untuk satu lemari kaca akan diisi 200 nasi kota berikut minumannya. Soal dana sehingga bisa tiap hari menyediakan menu sederhana bagi masyarakat, menurutnya itu berasal dari iuran sukarela anggota.

Dijelaskannya, keberadaan ‘Polresta Berbagi’ sesungguhnya tak sekedar hanya sebatas memberikan makan semata. Namum jauh di balik itu ada tujuan besar lain yang ingin dicapai jajaran Polresta Yogyakarta, yakni mengedukasi dan membiasakan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan.

Dalam tiap hari pelaksanaannya, anggota selalu menyisipkan pesan kepada masyarakat untuk senantiasa melaksanakan anjuran kesehatan dari pemerintah tentang pencegahan Covid-19 dengan melaksanakan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Bahkan terkadang dalam kegiatan pemberian makan gratis tersebut juga dilakukan pembagian masker maupun handsanitizer kepada masyarakat.

“Kesadaran inilah yang harus kita semua miliki dalam adaptasi kebiasaan baru ini. Jika masyarakat mematuhi seluruh protokol kesehatan, maka wabah Covid-19 ini tak akan menularkan lebih luas lagi dan bahkan bisa hilang,” jelasnya.

Selain melalui program ‘Polresta Berbagi’, Kepolisian wilayah Kota Yogyakarta juga aktif bersama jajaran lain untuk menegakkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di tengah masyarakat. Beberapa titik keramaian seperti kawasan Malioboro, Terminal Giwangan maupun Stasiun Tugu serta Lempuyangan tak luput dari pantauan aparat.

“Sejauh ini kesadaran maayarakat untuk melaksanakan 3M mulai tumbuh. Masalah Covid-19 ini merupakan keresahan bersama, oleh karena itu harus kita selesaikan bersama pula yakni dengan mematuhi protokol kesehatan,” pungkasnya. (Van)

BERITA REKOMENDASI