Penambangan di Dusun Ngori, Fokja Segera Kirim Surat ke Kementerian LHK

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Forum Rakyat Jogjakarta (Fokja) akan segera mengirimkan surat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) terkait adanya dugaan penambangan liar yang terjadi di Dusun Ngori Desa Kemiren Srumbung Magelang Jawa Tengah. Fokja menilai jika permasalahan ini tak segera dihentikan maka akan merusak ekosistem kawasan lereng Merapi dan merugikan pendapatan negara maupun daerah.

Fokja melalui penasehatnya, Muhammad Dadang Iskandar rencananya akan mengirimkan surat tersebut Senin (21/06/2021) besok. Selain ke Kementerian LHK, surat terbuka akan pula dikirimkan kepada Kementerian Investasi dan Badan Koordinasi Penanaman Modal sebagai pihak yang berwenang mengeluarkan izin penambangan.

“Besok akan kami kirimkan surat supaya kementerian mengetahui adanya dugaan penambangan liar di Dusun Ngori. Kami harapkan dengan ini ada tindakan tegas dari pemerintah untuk segera menutup aktivitas ilegal tersebut,” kata Dadang Iskandar di Depok Sleman, Minggu (20/06/2021).

Dari penelusuran yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) ini, aktivitas penambangan liar tersebut sudah lama terjadi. Ekspoitasi kekayaan alam tanpa izin itu menurut Fokja berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

“Penambangan dilakukan seharian, rata-rata 300 truk pasir keluar masuk lokasi. Truk-truk pasir mulai antre sejak pagi hari dan sore sudah berhenti,” ungkapnya.

Ia juga menyatakan seharusnya pihak TNGM mengetahui aktivitas terlarang ini dan dapat mengambil tindakan tegas. Fokja meminta pihak berwewenang untuk segera mengusut secara tuntas parmasalahan ini.

Plt Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi menyatakan wilayah Dusun Ngori memang ada sebagian yang masuk kawasan taman nasional. Namun ia kembali menegaskan tak ada aktivitas penambangan di kawasan TNGM.

“Tidak ada penambangan di TNGM dan kami tidak pernah mengeluarkan izin tersebut. Selama pemantauan kami di lokasi tak ada aktivitas penambangan, tapi jika itu dilakukan secara kucing-kucingan kami tidak tahu karena petugas tidak bisa 24 jam berada di lokasi,” tegasnya. (Van)

 

BERITA REKOMENDASI