Perlu Inovasi Agar Pariwisata Kaliurang Tidak Stagnan

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Anggota Fraksi Partai NasDem DPR RI, Subardi mengritik sikap pemerintah daerah yang tidak cepat berinovasi dalam mengembangkan potensi pariwisata daerah, khususnya di kawasan Kaliurang Sleman. Subardi menilai kawasan Kaliurang kini tertinggal dengan obyek wisata baru di Yogya seperti Tebing Breksi dan Mangunan. Bahkan Kaliurang juga kalah dibanding sederet obyek wisata lainnya di perbatasan Bantul dan Gunungkidul.

“Saya melihat obyek wisata ini stagnan. Hanya begitu-begitu saja,” kata Mbah Bardi, sapaan akrabnya, Sabtu (13/03/2021).

Subardi hadir dalam acara lepas liar ratusan ekor burung pipit di Kaliurang Timur Hargobinangun Pakem Sleman. Agenda ini merupakan inisiatifnya bersama relawan Pager Merapi, Kapospol Kaliurang serta Pokdarwis Kaliurang.

Pelepasan burung pipit sebagai usaha melestarikan keberadaan Elang Jawa di Kaliurang dan lereng Merapi. Burung pipit diyakini merupakan mangsa dari predator itu.

Populasinya diharapkan cepat berkembang untuk membantu habitat Elang Jawa di kawasan wisata pegunungan paling popular di Yogyakarta. Selain melepas liar burung pipit, Mbah Bardi dan para pegiat pariwisata Kaliurang juga menanam bibit alpukat jumbo di tepi timur Kaliurang Timur yang berbatasan langsung dengan Gunung Merapi.

“Yang saya lakukan bersama pegiat wisata di sini semata untuk mengembangkan potensi wisata di Kaliurang. Kawasan lereng Merapi ini sudah dikenal di seluruh Indonesia bahkan dunia. Maka harus ada inisiatif dan inovatif, terutama oleh Pemda agar lebih adaptif,” jelas Ketua DPW NasDem DIY itu.

Dukuh Kaliurang Timur, Anggara mengamini komentar Mbah Bardi bahwa kawasan Kaliurang terlihat stagnan. Namun kini semangat mengembangkan lingkungannya mulai tumbuh. “Tapi sekarang warga mulai membangun secara mandiri kawasan ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Mbah Bardi menjajal mobil offroad untuk menjelajah eksotisme alam di Kaliurang. Wisata bertajuk ‘Kaliurang Explorer,’ merupakan inisiatif warga yang memadukan tur alam, heritage atau wisata kolonial, serta layanan desa wisata.

“Ini cara baru menikmati Kaliurang. Tur yang dibangun atas dasar inisiatif warga masyarakat. Jalur wisata jip tidak hanya lava tour, tapi keliling Kaliurang di rute khusus,” jelas Anggara. (*)

BERITA REKOMENDASI