Politik Dinasti Tersaji dalam Film Pendek

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Momentum Pilkada serentak banyak diwarnai kehadiran politik dinasti. Sejumlah elit (memaksa) mencalonkan anggota keluarganya, meski tak punya kemampuan. Instrumen kekuasaan menjadi tumpuan elit dinasti untuk mengamankan calonnya. Inilah gambaran yang tersaji dalam film pendek berjudul ‘Film Pendek II Kemaruk.”

Film yang diunggah di YouTube pada tanggal 24 November 2020 ini disutradarai oleh Ambar Wiyanto. Ia mengupas fenomena keluarga dinasti yang ikut kontestasi politik. Kisah yang diangkat dalam film berdurasi 18 menit ini dimulai dari obrolan Purwanto selaku kepala desa kepada istrinya, Hartini.

Purwanto mengaku tak bisa ikut pemilihan lagi. Ia dengan kalem membujuk istrinya untuk maju. Hartini sempat menolak, “Pak, aku ki isin, mengko nek wong-wong do cerewet pye?” ujar Hartini.

Namun bujukan suaminya membuat Hartini mantap mencalonkan diri. Pencalonannya di-backup Purwanto beserta perangkat kekuasaannya. “Wes-wes to, mengko aku karo mas hari (sekretaris desa) sik ngatur kabeh,” ujar Purwanto.

Film yang mengambil kolasi shooting di Sleman Barat mengadopsi fenomena masyarakat yang kritis menyikapi politik dinasti. Sang sutradara merangkai alur cerita mulai dari profil keluarga dinasti hingga penolakan warga yang mayoritas sudah melek politik. Karakter warga yang kritis membuat konflik berjalan menarik dan mendidik.

“Ini cari kami mengemas cerita dari kenyataan sosial. Tujuannya untuk mendidik masyarakat agar peka terhadap fenomena politik dinasti,” ujar sutradara Ambar Wiyanto.

Dalam pemilihan kepala desa, Hartini berhadapan dengan Bu Atun. Bu Atun adalah warga biasa yang berprofesi Bidan. Dukungan kepada Bu Atun terus mengalir, terlebih ia sering membantu warga melalui kliniknya. Di sisi lain, banyak warga yang mengkritisi keluarga dinasti yang kerap memfitnah Bu Atun ikut organisasi terlarang.

“Isih mending lo bu, (nasibe warga) kene ki ono Bu Atun. Walaupun wis difitnah de’e isih gellem maju nyalonke,” kata salah seorang ibu-ibu yang ceplas-ceplos.

Film ini ditutup oleh dialog para warga yang menilai, kemampuan dan kapasitas Hartini sangat diragukan untuk membawa kesejahteraan. Kecemasan warga dan daya kritisnya menjadi penutup dalam film yang mengambil shoting di kawasan Nogotirto, Gamping, Sleman.

“Bagi pelaku seni, kami ingin menyembuhkan demokrasi dari ulah para elit dinasti. Mereka memang berdalih untuk melanjutkan pembangunan. Tetapi kami tahu, niat mereka tidak tulus. Mereka hanya ingin rantai kekuasaannya tidak terputus,” pungkas sutradara muda Ambar Wiyanto. (*)

BERITA REKOMENDASI