Prodi Kebidanan Program Diploma Tiga Mengadakan Webinar Mengelola Stress Saat Pandemi Covid-19

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Dalam masa pandemi Covid 19 ini mengharuskan mahasiswa belajar melalui daring, dimana mahasiswa merasa tidak optimal dalam menerima materi. Tak jarang mahasiswa kesulitan karena banyak kendala seperti gangguan jadingan ataupun dengan media pembelajaranya. Banyak mahasiswa mengalami stress dalam pelaksanaan daring di masa pandemi ini.

Dalam webinar ini peserta yang tidak hanya berasal dari Prodi Kebidanan Program Diploma Tiga Universitas Respati Yogyakarta, namun beberapa diantaranya berasa dari Batam, Tasikmalaya, Surakarta, dan beberapa daerah lainnya di Indonesia, Para peserta memberikan respon positif karena disuguhkan dengan pembicara yang memberikan materinya dengan santai dan menarik. Acara ini ditutup dengan pengarahan singkat dari Ketua Program Studi Kebidanan Program Diploma Tiga Universitas Respati Yogyakarta Almira Gitta Novika, S.SiT, M.Kes

Ian Rossalia Pradita Puteri, SST, M.Kes, selaku Ketua Panitia mengatakan seminar ini bertujuan untuk membantu mahasiswa mengurangi stress saat pembelajaran daring selama pandemi covid 19, sehingga mendapatkan hasil yang diharapakan.

Stress merupakan reaksi dari kondisi yang muncul saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan atau suatu perubahan. Stres juga dapat terjadi karena situasi atau pikiran yang mempengaruhi seseorang. Jika tak dikelola dengan baik maka stress akan berdampak buruk bagi seseorang yang ujung-ujungnya melahirkan depresi.

Hal itu dipaparkan Psikolog Keluarga dan Pendidikan, Nurmey Nurulchaq., S.Psi., MA. Psikolog dalam webinar soft skill bagi mahasiswa Prodi Kebidanan Program Diploma Tiga Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo), Selasa (16/03/2021). Dengan mengangkat tema ‘Manajemen Stres Belajar Daring Selama Pandemi Covid-19’, Nurmey Nurulchaq banyak menjelaskan seputar pemicu stress dan bagaimana mengelolanya serta mencari solusinya.

Bagi mahasiswa kondisi yang banyak dirasakan saat pandemi seperti ini adalah stress akademik. Tekanan psikis ini merupakan suatu keadaan gangguan fisik, mental dan emosional yang disebabkan ketidaksesuaian antara tuntutan lingkungan dengan sumber daya aktual yang dimiliki oleh mahasiswa sehingga mereka merasa terbebani.

“Pada masa pandemi seperti ini stress akademik banyak dirasakan mahasiswa. Beban tugas yang besar ditambah lagi dengan keterbatasan proses perkuliahan membuat stress akademik ini muncul,” kata Nurmey Nurulchaq.

Stress akademik akan terus muncul jika mahasiswa tak mengelolanya dengan baik. Agar tak terjadi stress akademik yang semakin meningkat, Nurmey Nurulchaq menyampaikan agar mahasiswa mengenali stressor itu terlebih dahuli atau penyebab stress tersebut.

Penyebab stress itu bisa dari bisa luar yakni yang berkaitan dengan akademik, maupun dari diri mahasiswa tersebut. Jika telah menemukan stressor itu maka mahasiswa harus mengurai permasalahan tersebut dan mencari solusi untuk menyelesaikannya.

“Cara mengelola stres akademik saat pandemi diantaranya dengan mengenali dulu penyebab stres. Gali potensi diri uang dimiliki, selanjutnya bangun relationship dan yang utama yakni berdoa serta beribadah,” ujarnya.

Ia menambahkan, stress tak selamanya berdampak negatif. Dalam kondisi tertentu stress dapat membawa dampak positif, bahkan memotivasi diri sendiri ataupun orang-orang di sekitar.

Sementara itu Dosen Unriyo, Setyo Mahanani Nugroho, SST., M.Kes dalam webinar ini menyampaikan pentingnya komunikasi dalam kehidupan. Dalam komunikasi ada sebuah pesan yang disampaikan karena komunikasi tidak hanya sekedar berbicara saja.

“Di sini kita menyampaikan pesan atau berita dari apa yang diharapkan. Jadi bukan hanya sekadar berbicara saja, tetapi juga membawa pesan untuk diampaikan,” jelasnya.

Untuk berkomunikasi, menurutnya ada komponen penting yang tak bisa ditinggalkan, yakni komunikator. Komunikator merupakan orang yang memberikan atau menyampaikan pesan untuk disampaikan agar oramg lain mengerti.

“Jangan sampai menjadi seorang komunikator salah dalam memberikan pesan. Jika salah maka pesan yang disampaikan akan berbeda makna dan pemahaman sehingga tujuan awal dari pesan tersebut tidak tersampaikan,” ujarnya. (*)

BERITA REKOMENDASI