Sukamta Desak RUU Perlindungan Data Pribadi Segera Diselesaikan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Lemahnya perlindungan data pribadi warga Indonesia mengundang keprihatinan Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta. Bocornya data tersebut disalahgunakan pihak-pihak tak bertangungjawab dan bahkan bisa diintip oleh asing. Sukamta mendesak pemerintah agar Rancangan Undang-undang (RUU) Perlindungan Data Pribadi segera diselesaikan.

Politisi PKS ini mengatakan kuantitas dan kualitas kejahatan digital di tanah air terus meningkat. Berdasar data Patroli Siber Bareskrim Polri pada 2021, sejak Januari hingga September tercatat ada 15.152 aduan kejahatan siber yang masuk ke aplikasi patrolisiber.id.

Dari laporan tersebut jumlah kerugian yang dialami nilainya mencapai Rp3,88 triliun. Penipuan secara online menduduki peringkat paling banyak dilaporkan dengan jumlah 4.601 kasus.

“Ini yang dilaporkan, yang tidak dilaporkan mungkin lebih banyak lagi. Kasus kejahatan siber ini paling banyak menggunakan WhatsApp yakni 9.540 kasus, Instagram 2.971 kasus, telepon atau SMS 2.971 kasus dan Facebook 1.874 kasus,” kata Anggota Fraksi PKS Dapil DIY ini dalam seminar IKP Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, Kamis (14/10/2021).

Ia menyampaikan Indonesia termasuk negara paling tertinggal karena belum memiliki regulasi perlindungan data pribadi. Sedangkan negara lain di Asia bahkan Asean seperti Jepang, Korea, China, Malaysia, Filipina telah memiliki instumen itu.

“Data-data penting itu diambil orang lain. Masyarakat hanya bisa pasrah karena data pribadi itulah yang disetor ke instansi pemerintah atau penyelenggara sistem elektronik,” tambahnya.

Saat ini Eropa masih menjadi acuan berbagai negara di dunia karena perlindungan data pribadi di sana sangat kuat. Semua penyedia aplikasi patuh dan tunduk terhadap undang-undang. ”Karena undang-undangnya sangat kuat semua tunduk,” kata dia.

Sukamta meminta masyarakat harus terus diberikan literasi digital agar mereka mampu mengantisipasi kejahatan siber yang sulit dibendung. Melalui pemberian tips pencegahan, harapannya masyarakat bisa mengenali lebih dini potensi kejahatan siber yang dapat terjadi kapan saja.

Pakar Informatika Universitas Amikom Yogyakarta, Ferry Wahyu Wibowo menjelaskan mengingatkan masyarakat untuk dapat mengenali cara kerja pelaku kejahatan siber. Ia menyarankan agar hati-hati dalam sofware, karena saat ini banyak yang tidak mengandung unsur kebermanfaatan namun justru menjadi aplikasi pengintai.

Ferry juga membagikan cara aman mengelola akun medsos, antara lain penggunaan pasword harus kompleks memakai huru besar dan kecil serta angka dan simbol. Selain itu tidak direkomendasikan menggunakan password dengan identitas diri, juga harus menggunakan password yang berbeda dalam setiap akun medsos. (*)

BERITA REKOMENDASI