Umat Muslim Dituntut Cari Guru Agama yang Tepat

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Ustad sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ora Aji, Miftah Maulana Habiburrahman atau yang akrab disapa Gus Miftah menilai pentingnya mencari guru agama yang tepat. Tujuannnya tak lain agar tidak mudah terjerumus pada hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran dan tuntunan agama seperti sikap intoleransi, paham radikalisme, hingga perilaku sehingga mengarah ke tindakan terorisme.

“Di era pandemi seperti sekarang ini, tingkat kebutuhan orang untuk beragama semakin tinggi. Karena orang cenderung takut akan datangnya kematian. Namun saat kita mau berguru, bergurulah pada guru yang tepat. Guru-guru yang menyejukkan, yang mengajarkan Islam dengan penuh keramahan, Islam yang hepi dan menyenangkan. Namun tetap kompeten,” ujarnya dalam acara silaturahmi bersama jajaran Polda DIY Pondok Pesantren Ora Aji yang terletak di dusun Tundan Purwomartani Kalasan Sleman, Minggu (18/04/2021).

Menurut Gus Miftah munculnya sikap-sikap intoleransi, radikalisme hingga terorisme tak jarang justru bermula dari kesalahan seseorang dalam memilih guru agama sehingga membuatnya salah dalam memahami agama itu sendiri. Karena itu lah cara paling mudah mencegah sikap intoleransi, radikalisme hingga terorisme adalah dengan belajar kepada guru yang tepat.

“Apalagi saat ini banyak kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama dan mengajarkan agama secara sembunyi-sembunyi. Kalau tidak ada sesuatu, tentu akan mengajarkan secara terbuka. Sehingga pemerintah maupun aparat kepolisian harus senantiasa bersinergi dan merangkul mereka. Termasuk aktif menjalin komunikasi dengan para tokoh masyarakat setempat. Agar hal-hal yang tidak diinginkan terjadi,” katanya.

Sementara itu masyarakat juga dinilai harus senantiasa menyaring setiap informasi yang diperoleh, darimana asalnya termasuk seperti misalnya di media sosial. Hal itu diperlukan agar kita tidak serta-merta asal menelan informasi yang belum tentu kebenarannya tersebut, bahkan hingga membagikannya secara luas melalui jaringan media sosial yang dimiliki.

“Nitezen harus saring sebelum sharing. Lalu postinglah yang penting. Jangan yang penting posting. Karena itu bahaya. Ketika kita mem-viralkan sesuatu yang tidak penting, terkadang justru menguntungkan pihak-pihak atau kelompok itu. Mestinya tidak perlu, dan sebaiknya kita hindari,” katanya.

Dalam kegiatan itu sendiri, Polda DIY berupaya menjalin silaturahmi dengan para tokoh agama, pengasuh pondok pesantren, termasuk kepada santri guna mencegah masuknya faham dan ideologi radikalisme/terorisme dan intoleransi. Selain itu, kegiatan semacam itu juga diharapkan dapat mencegah pengaruh ideologi tersebut oleh kelompok dan jaringan terorisme.

Dihadiri Direktur Intelkam Polda DIY, Kombes Pol Dr Tagor Hutapea SIK Msi, Kasubdit IV Dit Intelkam Polda DIY AKBP Drs Edy Thomas Saragih Msi hingga Kanit 3 Subdit IV Dit Intelkam Kompol Harijanto bersama anggota dalam kegiatan tersebut pihak kepolisian melakukan diskusi dengan Gus Miftah guna memperoleh masukan dan saran dalam menanggulangi bahaya dari radikalisme maupun terorisme dan Intoleransi.

Selain dapat mempererat tali persaudaraan dan keakraban antara tokoh agama dan Kepolisian, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mendorong segenap warga santri ponpes Ora Aji maupun pengasuh untuk turut serta mendukung secara bersama-sama dengan stockholder dalam mencegah paham Radikalisme/Terorisme dan Intoleransi.

“Silaturahmi dengan Gus Miftah ini kita lakukan sebagai bagian kegiatan melaksanakan sinergitas polri, yakni dalam upaya mencegah dan menanggulangi paham intoleransi radikalisme dan terorisme. Walaupun tidak diminta pun beliau pasti sudah melakukan. Namun kita hanya meneguhkan apa yang menjadi tugas kita. Kita titipkan pesan ke beliau agar hal ini bisa terlaksana dengan baik khususnya pada para santri ponpes Ora Aji,” ungkap Harijanto. (*)

BERITA REKOMENDASI