Warga Wulungsari Gelar Wayang Kulit Virtual Peringati Hari Pancasila

Editor: Ivan Aditya

WONOSOBO, KRJOGJA.com – Warga Desa Wulungsari Selomerto Wonosobo Jawa Tengah menggelar wayang kulit virtual di balai desa setempat, Senin (31/05/2021). Pertunjukan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada 1 Juni.

Pagelaran wayang kulit ini mengambil lakon ‘Semar Ngruwat Jagad’ dengan dalang Ki Anom Sarjhono dari Banjarnegara Jawa Tengah. Hadir dalam kesempatan ini Ketua DPRD Wonosobo, Eko Prasetio.

Kepala Desa Wulungsari, Anggi menyampaikan pagelaran wayang kulit di desanya sengaja digelar untuk membangkitkan semangat berbudaya di tengah masyarakat. Menurutnya semangat itu belakang mulai hilang sehingga saat ini harus dibumikan lagi.

“Ini sebagai bentuk kecintaan masyarakat Desa Wulungsari akan tradisi kebudayaan yang sudah mulai redup. Jika bukan kita, maka siapa lagi yang akan melestarikan dan mencintai budaya leluhur tersebut,” kata Anggi.

Untuk terus memupuk cinta budaya, Anggi telah memprogramkan kegiatan pertunjukan wayang kulit seperti ini setidaknya rutin satu tahun sekali. Ia berharap apa yang dilakukan warganya dapat menjadikan contoh bagi desa lain di Wonosobo.

Acara yang rampung hingga dini hari tersebut dibuka langsung Ketua DPRD Wonosobo. Secara simbolis dilakukan pula pemotongan tumpeng oleh Anggota DPRD Wonosobo, Eka Gunadi yang diserahkan kepada Kepala Desa Wulungsari.

Eko Prasetio menekankan kegiatan budaya seperti ini harus tetap di jaga dengan baik sebagai bentuk nasionalisme. Menurutnya nasionalisne tidak hanya berbicara masalah ketahanan negara saja, namun juga termasuk bagaimana cara masyarakat nguri-uri kebudayaan bangsa.

“Menjaga tradisi nenek moyang itu juga sudah menjadi bagian nasionalisme bangsa, karena pagelaran wayang sendiri mempunyai makna yang sangat filosofis dan fundamental. Didalamnya mempunyai unsur tontonan dadi tuntunan, yang berarti ada banyak makna pembelajaran baik bisa dipetik untuk kehidupan sehari hari,” tegasnya.

Karena pertunjukan wayang kulit digalar secara virtual maka tak ada kerumunan warga di Balai Desa Wulungsari. Kendati demikian penerapan protokol kesehatan tetap diberlakukan secara ketat bagi para tamu maupun perwakilan masyarakat seperti memakai masker, mencuci tangan serta menjaga jarak. (*)

BERITA REKOMENDASI