Bangun Potensi SDM Indonesia Unggul, BKKBN Luncurkan Program Mahasiswa Peduli Stunting

YOGYA, KRJOGJA.com – Masalah stunting penting untuk diselesaikan, karena berpotensi mengganggu potensi sumber daya manusia dan berhubungan dengan tingkat kesehatan, bahkan kematian anak. Hasil dari Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan bahwa terjadi penurunan angka stunting berada pada 27,67 persen pada tahun 2019. Walaupun angka stunting ini menurun, namun angka tersebut masih dinilai tinggi, mengingat WHO menargetkan angka stunting tidak boleh lebih dari 20 persen.

Data Bank Dunia atau World Bank mengatakan angkatan kerja yang pada masa bayinya mengalami stunting mencapai 54 persen. Artinya, sebanyak 54 persen angkatan kerja saat ini adalah penyintas stunting. Hal inilah yang membuat stunting menjadi perhatian serius pemerintah. Awal tahun 2021, Pemerintah Indonesia menargetkan angka Stunting turun menjadi 14 persen di tahun 2024.

“Mempersiapkan generasi emas 2045 bukan hal mudah. Pasalnya, stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak dibawah usia dua tahun di Indonesia. Kondisi tersebut harus segera dientaskan karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia 2045. Karenanya kita menggandeng perguruan tinggi dengan meluncurkan program Mahasiswa Peduli Stunting, ini dikarenakan mahasiswa yang sering bersentuhan langsung dengan masyarakat, baik itu lewat KKN, pengabdian masyarakat, pelatihan kerja dan kegiatan lainnya di tengah warga. Mereka para mahasiswa akan mengedukasi masyarakat bagaimana mencegah dan mengatasi stunting, agar anak-anak penerus Indonesia menjadi generasi kuat dan cerdas,” ungkap Kepala BKKBN, Dr. (HC) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG. (K) saat peluncuran Program Mahasiswa Peduli Stunting di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (24/9/2021).

BERITA REKOMENDASI