2020, Waspadai Siklus DBD 5 Tahunan

BANTUL, KRJOGJA.com – Tahun 2020 ini masyarakat diimbau mewaspadai siklus Demam Berdarah Dengue (DBD) lima tahunan. Sementara itu DBD telah endemis di 17 kecamatan di Bantul.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, Agus Budi Rahardjo, kepada KR, Senin (13/1), berharap masyarakat mengantisipasi penyakit yang rawan muncul pada musim penghujan. Beberapa penyakit seperti leptospirosis dan DBD. Berdasarkan data dari Dinkes Bantul, kasus DBD pada 2019 sebanyak 1.323 kasus dengan empat orang meninggal dunia. Sebelumnya pada 2018 ada sebanyak 182 kasus, 2017 sebanyak 538 kasus dan 2016 sebanyak 2.442 kasus. Adapun kasus DBD sampai meninggal dunia biasanya faktor keterlambatan penanganan dan lemahnya kondisi seseorang.

"Masyarakat diimbau mewaspadai tren 5 tahunan yang biasanya rentan banyak kasus. Kasus DBD erat kaitannya dengan kondisi alam. Namun dapat dicegah dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan sebagainya.

Ditambahkan, saat ini di 17 kecamatan se-Bantul telah dinyatakan endemis DBD. Meski demikian ada 3 kecamatan dinyatakan segitiga merah wabah DB. Tiga kecamatan yakni Kecamatan Kasihan, Banguntapan dan Sewon. "Rata-rata kawasan urban, aglomerasi perkotaan dengan jumlah penduduk yang tinggi dan padat," jelasnya.

Beberapa gerakan pencegahan DBD yang dilakukan selain PSN dengan lavasida/ abatesasi (pemberian abate ditempat-tempat tertentu), pengefektifan kader kesehatan dan jumantik. Pengendalian bebas jentik saat ini di Bantul sudah mencapai angka 84 persen. Target 2020 sebesar 95 persen. Terkait fogging, secara teori memang dapat memutus mata rantai dengan membunuh nyamuk dewasa yang
membawa virus dengue. "Tapi harus dilakukan secara selektif, jika tidak fogging justru menyebabkan kebal pada nyamuk dan disinfektan bagi manusia maupun hewan lain," jelasnya. (Aje)

BERITA REKOMENDASI