Angka Cerai dan Nikah Dini di Bantul Meningkat Selama Pandemi

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL, KRjogja.com – Selama tiga tahun mulai 2019 hingga 2021 ini angka Cerai gugat atau cerai atas permintaan pihak istri dan angka pernikahan dini atau pernikahan dibawah usia 19 tahun di Bantul meningkat.

Menurut Panitera Pengadilan Agama (PA) Bantul, Drs Abdul Adhim , Kamis (8/7), ada asumsi kenaikan angka cerai gugat dan pernikahan dini karena dampak pandemi Covid-19.

“Kami belum pernah melakukan penelitian resmi, tetapi asumsi atau dugaan memang karena dampak pandemi Covid-19”, ungkap Drs Abdul Adhim.

Sementara data di Kantor PA Bantul, jumlah angka perkara kasus perceraian di Bantul, tahun 2019 ada 1.829 perkara, terdiri cerai talak (atas kehendak suami) tercatat 376 perkara dan cerai gugat (atas permintaan istri) 981 perkara. Tahun 2020 ada 1.697 perkara meliputi cerai talak 358 perkara dan cerai gugat 1.032 perkara. Tahun 2021 hingga akhir Juni sudah terdapat 1.193 perkara, terdiri cerai talak 238 perkara dan cerai gugat 742 perkara. “Kami asumsikan sampai akhir 2021 nanti bisa mencapai 2.000 perkara,” imbuh Drs Abdul Adhim.

Menurut Abdul Adhim, angka perceraian pada tahun 2020, yang 1.697 perkara karena mulainya terjadi pandemi Covid-19 sehingga diberlakukan pembatasan-pembatasan dan terjadi penundaan sidang perceraian.Sehingga terjadi penurunan dibanding angka perceraian 2019.

Dari angka perceraian yang terjadi di Bantul beralasan karena ketidak harmonisan keluarga atau adanya pertengkaran yang tak ada ujung penyelesaiannya menduduki perkara tertinggi yakni 65 persen. Urutan kedua, karena salah satu pihak meninggalkan keluarga atau tidak ada tanggungjawab 17 persen. Menyusul karena faktor ekonomi 16 persen. Selebihnya faktor lain-lain. Banyaknya penduduk juga bisa menjadi tingginya angka perceraian.

Pada tahun 1980 perceraian gugat masih merupakan kejadian yang dianggap tabu atau malu bagi keluarga, tetapi sekarang perceraian gugat sudah dianggap hal yang biasa.

BERITA REKOMENDASI