Covid-19, Bantul Kehilangan PAD Rp 97 Miliar

BANTUL, KRJOGJA.com – Akibat pandemi Covid-19, Pemkab Bantul berpotensi kehilangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 97 miliar. Sementara itu sesuai arahan Kemendagri dan Kemenkeu, Bantul diminta melalukan refocusing anggaran sebanyak 2 kali.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Helmy Jamharis usai rapat tindak lanjut perpanjangan masa tanggap darurat, Kamis (27/5) di Kompleks Parasamya menuturkan keberlangsungan Pemkab Bantul sangat bergantung kepada Dana Perimbangan, baik dari pusat ataupun Pemda DIY. Apalagi ditengah pandemi Covid-19, PAD jauh dari harapan.

“Dari hitungan diatas kertas, kita kehilangan PAD Rp 97 miliar dari rencana Rp 469,79 miliar menjadi 371,81 miliar. Kondisi keuangan sampai sekarang posisi kas daerah hanya tinggal Rp 17 miliar, ditambah deposito total sekitar Rp 210 miliar. Untuk kebutuhan rutin tiap bulan yang harus dikeluarkan Rp 50 miliar.jika tidak ada pendapatan dari dana perimbangan, nafas Pemkab Bantul hanya bisa berlangsung selama 4 bulan kedepan saja,” urai Helmy Jamharis.

Ditambahkannya, dari hasil keputusan Mendagri dan Kemenkeu 9 April 2020 lalu, Bantul telah melaksanakan refocusing 2 kali. Adapun belanja barang dan jasa sebesar 12,2 persen dan belanja modal sebesar 44,81 persen dialihkan untuk belanja tak terduga. Sehingga belanja tak terduga dari sebelumnya Rp 15,2 miliar menjadi Rp 91,94 miliar. Dengan demikian alokasi penanganan Covid-19 menjadi Rp 89 miliar. Dengan refocusing ini ternyata belum dapat memenuhi ketentuan yang diamanatkan dalam keputusan bersama tersebut.

BERITA REKOMENDASI