Dampak Impor Beras Bagi Petani Bantul

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Wacana impor satu juta ton beras oleh pemerintah pusat memicu kontroversi dan tanggapan beragam di Kabupaten Bantul. Bantul sebagai salah satu lumbung gabah dengan produksi tiap tahunnya menembus 198 ribu ton gabah kering giling merasa aneh dengan kebijakan tersebut. Sementara data Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul menyebutkan jika Bantul suplus beras dan belum perlu kebijakan impor dilakukan.

Ketua DPRD Kabupaten Bantul, H Hanung Raharjo ST, Senin (29/04/2021) dengan tegas menolak rencana impor beras satu juta ton. Kebijakan tersebut dampaknya merugikan petani di Bantul.

“Produksi di Bantul ini mencapai 198 ribu ton, ketika digiling menghasilkan beras hampir 100 ribu ton beras. Kebutuhan beras masyarakat Bantul setahunnya diangka 70 ribu ton beras. Artinya kita surplus beras 30 ribu ton setiap tahunnya,” jelasnya.

Politisi PDI Perjuangan menjelaskan, ketika gelontoran beras impor satu juta ton ke pasar. Harga beras bakal merosot dan pihak petani jadi pihak paling dirugikan petani. “Tentunya tidak bisa petani menanam padi sedang masa panen berikutnya harga beras jatuh. Disisi lain biaya proses penggarapan lahan juga mahal, pupuk harganya mahal karena pupuk bersubsidi langka di agen pupuk bersubsidi,” kata Hanung.

Infonya rencana impor beras sudah dibatalkan demi melindungi petani. Selain itu saat ini tidak ada kelangkaan beras di pasaran harga juga stabil dan petani masih untung.

Sementara Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan DPPKP Bantul, Imawan Eko Handriyanto mengungkapkan impor beras berpengaruh terhadap harga beras petani lokal bila ditilik dari logika secara umum. Imawan berpijak teori supply and demand. Otomatis kebijkan impor memambah kuantitas suplai beras. Kondisi tersebut bila tidak diringi naiknya permintaan dikhawatirkan harga beras petani anjlok.

“Logika secara umum berpengaruh. Karena menambah pasokan beras dipasaran, sehingga suplainya bertambah, andaikata permintaanya tetap, nanti harganya turun,” jelasnya.

Selain itu kualitas beras dari Bantul bagus. Kualitas baik bisa dicapai karena penjaminan mutu telah dilakukan beberapa Gapoktan di Bantul. “Penjaminan mutu menuju ke beras berkualitas terus dilakukan, beberapa Gapoktan itu sudah mengarah ke mutu dengan memakai sertikat Pangan Dalam negeri (PD) itu ada prosedurnya,” jelasnya. (Roy)

BERITA REKOMENDASI