Dana Penanggulangan Krisis Air Menipis

BANTUL, KRJOGJA.com – Kemarau panjang yang tidak kunjung berakhir mulai menimbulkan kekhawatiran pemerintah. Sebab, dana penanggulangan jangka pendek kekeringan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) hanya menyediakan anggaran sekitar Rp 50 juta selama tahun 2018. Sementara dana segar itu sudah dipakai ¾ lebih, sedang musim hujan kelihatanya belum akan turun.

Kepala BPBD Bantul, Drs Dwi Daryanto Msi, Jumat (21/9) menjelaskan meski sekarang ini hujan mulai turun, hal itu belum musim penghujan.  Masa pancaroba kali ini merupakan puncak kekeringan. 

Merujuk data yang ada awal kemarau lalu terdapat empat  kecamatan mengajukan permohonan dropping air. Puncak kemarau ini bertambah menjadi 7 kecamatan, yakni Piyungan, Dlingo, Pundong, Imogiri,  Pandak, dan Kasihan. Hingga pertangahan September ini, BPBD sudah melakukan dropping air 500 tangki lenih. 

Jumlah ini dipastikan akan bertambah hingga musim benar-benar memasuki penghujan. Sejauh ini penanggulangan krisis air bersih, BPBD menyiapkan anggaran sekitar Rp 50 juta. "Sampai sekarang dana itu sudah terpakai 3/4-nya, jika tidak segera hujan kemungkinan akan kurang,"  ujarnya.

Kendati demikian, kata Daryanto pemerintah tetap melayani permintaan air bersih. Ketika dana habis, pemerintah bakal memaksimalkan dana swasta berupa corporate social responsibility (CSR).  Kondisi itu  berbeda dengan sebelumnya, dana kekeringan ini tidak habis. Jumlah permintaan dropping air bersih tidak sebanyak tahun ini.  (Roy)

BERITA REKOMENDASI