Debit Air Irigasi untuk Pertanian di Bantul Tinggal 30%

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Debit air irigasi untuk mengairi lahan pertanian di Kabupaten Bantul tinggal 30 persen, karena itu petani diminta mentaati pola dan tata tanam yang sudah diatur dengan SK Bupati Bantul No 438 Tahun 2018, tentang rencana pola tanam dan tata tanam global detail pada musim hujan 2018-2019 dan musim kemarau 2019.

Dalam SK Bupati tersebut diatur masa tanam menjadi tiga masa yakni masa tanam Padi, Padi dan Palawaja (P3). Kabid Sumber Daya Air (SDA) DPU Bantul, Yitno ST menjelaskan jumlah lahan pertanian yang membutuhkan air irigasi di seluruh Kabupaten Bantul mencapai 8.634 hektare.

Baca juga :

Petani Andalkan Jagung Saat Kemarau
Kekeringan di Bantul Meluas

Dari jumlah lahan tersebut, pada saat masa tanam padi membutuhkan air irigasi rata-rata 1,2 liter perdetik perhektare, sedangkan pada masa tanam palawija membutuhkan 0,3 liter perdetik perhektare. Saat ini debit air irigasi di Bantul tinggal sekitar 30 persen, sehingga hanya bisa untuk memenuhi kebebutuhan tanaman palawija.

Tapi masih ada petani yang mengabaikan SK Bupati, mestinya memasuki bulan Agustus hingga November 2019 mendatang menanam palawija, tapi menanam padi. “Maka jika tanaman padinya berpotensi gagal panen bukan salah pemerintah, itu risiko petani sendiri,” ungkap Yitno.

Untuk mengatur pola tanam dan penggunaan air irigasi pada musim kemarau yang minim air seperti saat ini mestinya dilakukan koordinasi Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) setempat. Sehingga tidak melakukan tanam padi menurut kehendak masingmasing petani.

Sementara untuk menghindari terjadinya gagal panen dan kerugian petani, SDA DPU Bantul mengimbau kepada pengurus GP3A melakukan koordinasi dengan anggotanya mengajak mentaati SK Bupati. Petani supaya menghemat penggunaan air dan berlaku bijak dengan kondisi minimnya air irigasi. Sedangkan SDA DPU Bantul telah melakukan upaya memaksimalkan fungsi jaringan irigasi dengan mengangkat walet. (Jdm)

BERITA REKOMENDASI