Dekranasda Kerja Keras Geliatkan UMKM Masa Pandemi Covid-19 

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL, KRjogja.com – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bantul bekerja keras dalam usaha menggeliatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Kabupaten Bantul. Adapun usaha UMKM hampir di seluruh kawasan mengalami penurunan anjlok akibat pandemi dengan segala konsekuensi pembatasan. Sebagai usaha menggeliatkan kembali sektor usaha kecil, Dekranasda Bantul menyelenggarakan pameran UMKM dengan tajuk “Gelar Produk Industri Kreatif” yang diadakan di Malioboro Mall selama 3 hari (11-13/6).

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian (KUKMP), Drs Agus Sulistiyana, MM kepada KR

, Jumat sore (11/6)  di Malioboro Mall menuturkan ada 34 stand UMKM yang melakukan pameran di Malioboro Mall. Dari 17 kapanewon masing-masing mendapatkan 2 stand. Adapun stand pameran menjual aneka potensi usaha kreatif seperti kuliner, makanan,minuman, aneka batik, fashion, souvenir serta produk handycraft.

“Target kami adalah penggeliatan ekonomi warga kembali pada masa pandemi. Harapan dan targetnya produk tidak hanya terjual selama pameran tetapi kedepan akan ada pengunjung atau konsumen tertarik kemudian datang ke tempat usaha dan membeli dalam jumlah banyak. Ini harapan kami jadi perputaran uang tidak hanya selama pameran saja,” jelas Agus.

Dipilihnya Mall Malioboro sebagai tempat pameran,selain sudah beberapa kali melalukan pameran di  Mall,pertimbangan Malioboro merupakan jantung DIY, selain targetnya adalah warga DIY sendiri, gelar industri kreatif dari Bantul di Malioboro harapannya juga menjadi perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Malioboro.

“Target konsumen tidak hanya membeli secara tatap muka namun mereka juga dapat membeli secara online dan kami fasilitasi. Apalagi dari Bank BPD DIY juga mendukung transaksi non tunai melalui QUAT Bank BPD DIY utk para pelaku UMKM di DIY,” tegasnya.

Ketua Dekranasda Bantul, Emi Masruroh Halim Muslih, SPd menambahkan gelar produk industri kreatif ini sengaja dibuat dengan stand berbeda dan bervariasi. Dari 17 kapanewon yang ada di Bantul tidak boleh ada yang menampilkan jenis  usaha yang sama baik itu untuk barang ataupun makanan/minuman.

“Kalaupun mereka menampilkan batik tidak boleh dengan model sama. Kapanewon Jetis dengan Batik Nitik, Pandak dengan Batik Kontemporer dan Giriloyo dengan Batik Klasik. Atau jika Pundong sudah membawa Mides maka wilayah sudah tidak boleh membawa makanan serupa meski sudah dilakukan variasi,” tegas Ibu Bupati Bantul ini.

BERITA REKOMENDASI