DIRJEN BELMAWA: Mahasiswa Unggul, Pintar Saja Tidak Cukup

BANTUL, KRJOGJA.com – Menjadi mahasiswa yang unggul di era industri 4.0 dan society 5.0, pintar saja tidak cukup.

"Mahasiswa unggul, pintar saja tidak cukup. Banyak skill yang harus dikuasai. Mahasiswa harus komunikatif,  kreatif, inovatif dan kolaboratif," ujar Prof Ismunandar PhD, selaku Direktur Jenderal (Dirjen) Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti saat jadi Keynote Speaker Seminar Nasional dan Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa Tingkat Nasional diselenggarakan Biro Kemahasiswaan dan Alumni (Bimawa) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) bekerjasama sama dengan Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah di Aphitarium Kampus Utama, Ringroad Selatan, Bantul, Sabtu (28/12).

Kegiatan tersebut dibuka Dr Abdul Fadlil MT (Wakil Rektor 3 UAD),   pengantar Dr Muh Syamsudin (Diktilitbang PP Muhammadiyah) dan Dr Dedi Pramono MHum (Kepala Bimawa UAD).

Menurut Ismunandar, menjadi mahasiswa unggul memang harus memiliki banyak skill di era industri 4.0 dan society 5.0. "Mahasiswa unggul menjadi harapan, agen perubahan dan kader bangsa ke depan," ujaranya. Apalagi melihat realitas di luar, peran manusia digantikan oleh mesin atau robot. Ada 75-375 juta tenaga kerja global beralih profesi, ada 1,8 juta pekerjaan digantikan artificial intelligence. Teknologi akan melahirkan berbagai profesi yang saat ini belum ada. "Indonesia perlu meningkatkan kualitas keterampilan tenaga kerja dengan teknologi digital," ucapnya. 

Dalam pemahaman Ismunandar, tantangan SDM pembangunan Indonesia memang berat, apalagi adanya pengangguran. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2019, adanya pengangguran sarjana 5,67 persen. Detail lengkapnya pengangguran terbuka, SD 2,41 persen, SMP 4,75 persen, SMA 7,92 persen, SMK 10,42 persen, diploma 5,99 persen dan sarjana 5,67 persen.

Untuk itulah, maka pemerintah khususnya menciptakan lapangan kerja. "Diutamakan pendekatan pendidikan dan pelatihan vokasi yang baru dan inovatif," ujarnya. Dalam konteks pemberdayaan teknologi, memperkuat teknologi sebagai alat pemerataan baik daerah terpencil maupun kota besar mendapatkan kesempatan dan dukungan yang sama untuk pembelajaran.

Secara bergurau, Ismunandar menyebutkan, kalau mahasiswa hanya jadi 'kupu-kupu' (kuliah pulang, kuliah pulang), 'kura-kura' (kuliah rapat, kuli rapat) dan 'kunang-kunang' (kuliah nangkring, kuliah nangkring alias nongkrong), tidak banyak yang bisa diharapkan. 

Sedangkan Dr Abdul Fadlil dalam sambutan pengantar antara lain mengatakan, kader harus unggul. "Kalau tidak unggul kalah dengan yang lainnya," ujarnya.  Keunggulan perlu kerja keras, kreativitas dan inovatif. Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UAD tingkat nasional untuk PTN/PTS menempati urutan ke-12. "Untuk PTS PKM nasional urutan pertama," tandasnya. 

Sebelumnya, Dr Dedi Pramono MHum menyinggung selain seminar ada banyak program Pelatihan Mahasiswa Kader Bangsa.  "Kegiatan ini diikuti 15 Perguruan Tinggi Muhammadiyah se-Indonesia, ada sekitar 250 yang mengikuti kegiatan ini selama 4 hari nonstop," tandasnya. (Jay). 

BERITA TERKAIT