Doa Bersama Paska Kecelakaan Maut, DPR RI : Jangan  Ambil Keputusan Terburu-buru

Editor: Ary B Prass

BANTUL, KRJOGJA.com –  Paska  kecelakaan bus wisata di Bukit Bego Jalan Imogiri-Dlingo Kedungbuweng Wukirsari Imogiri Bantul sektor wisata tetap harus menggeliat. Kebijakan yang diambil harus mengakomodir semua kepentingan. Sementara doa bersama digelar Jawatan Keamanan Kapanewon Imogiri, relawan dari berbagai perkumlulan di pimpin KH Asmuni Abdul Rahman.
“Kegiatan doa bersama ini kami laksanakan karena terpanggil dan merasa sangat prihatin atas terjadinya kecelakaan dengan korban 13 orang tersebut, ” ujar Penewu Imogiri,  Slamet Santoso SIP MM usai doa bersama, Minggu (13/2/2022).
Slamet mengatakan,  doa bersama digelar melibatkan warga Imogiri, relawan dari berbagai unsur di DIY serta masyarakat umum.
“Kami yang berada di wilayah mendoakan agar korban diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, sementara keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, ” ujar Slamet.
Dengan doa bersama tersebut diharapkan tidak ada kecelakaan lagi.  “Kami berharap musibah kecelakaan sekali itu saja dan tidak ada lagi,” ujarnya.
Dalam doa bersama juga dihadiri Kapolsek Imogiri Polres Bantul Polda DIY,  Kompol Sumanto SH.
Sebelum dilakukan tabur bunga,  doa dipanjatkan dipimpin KH Asmuni Abdul Rahman. Masyarakat menaburkan bunga di sepanjang jalan lokasi terjadinya peristiwa maut tersebut.
Sebelumnya Panewu Dlingo Kabupaten Bantul, Slamet Pamuji MPd mengatakan, paska musibah itu kunjungan wisatawan menurun.  Dijelaskan, munculnya informasi bus wisata dilarang melintasi Jalan Imogiri-Dlingo tentu sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan. Sementara jika lewat Jalan Dlingo-Patuk aksesnya  sempit serta banyak jalan rusak yang membuat wisatawan tidak nyaman.
Menurut Slamet, anjloknya kunjungan wisatawan ke  Dlingo berdampak besar bagi masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata.
“Tetapi ini sudah menjadi keputusan  Pak Kapolres Bantul melarang bus turun dari Dlingo melewati Jalan Imogiri-Dlingo. Kita ikuti saja aturan Pak Kapolres Bantul,” ujarnya.
Slamet tidak bermaksud mengecilkan arti nyawa 13 korban yang meninggal. Karena nyawa tidak terhitung nilainya dan tidak ada bandingannya. Tetapi  juga diperlukan sebuah kebijakan yang berdampak baik bagi semua pihak dan tidak mematikan pariwisata di Dlingo.
Jika misalnya bus wisata masih bisa lewat Jalan Imogiri-Dlingo.  Kemudian ditempatkan relawan di titik-titik rawan untuk memandu sopir bus agar berhati hati lewat Jalan Imogiri-Dlingo.
“Banyak solusi bisa kita tawarkan tanpa menimbulkan dampak buruk bagi pelaku wisata,” jelasnya.

BERITA REKOMENDASI