Emping Garut Punya Nilai Jual Tinggi

Editor: Ivan Aditya

TANAMAN Garut banyak dijumpai di kebun-kebun, baik dibudidayakan atau tumbuh liar. Semula tanaman ini tidak punya nilai jual, namun berkat ketekunan tangan terampil Ny Astutik (42) yang juga Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Makmur dusun Ngincep RT 02/RW 36, Triwidadi, Pajangan, Bantul umbi Garut yang semula tidak ada harganya kini mempunyai nilai jual tinggi.

Tidak tanggung-tanggung, mulai tahun 2006/2007 Ny Astutik budidaya tanaman Garut di kebun miliknya seluas 1000 meter pesegi, yang kemudian dijadikan makanan olahan yakni emping Garut.
“Dari semula harga Garut yang baru dipanen hanya Rp. 200 per kilogram kini menjadi Rp. 4500,” ujar Ny Astutik dirumahnya, Kamis (20/08/2020).

Paling tidak ada prospek baik untuk harga Garut, sehingga bisa untuk meningkatkan ekonomi keluyarga. KWT Ngudi Makmur beranggotakan 30 orang, berdiri tahun 2000 kini sebagian besar juga budidaya tanaman Garut di kebun masing-masing.

Setiap tanggal 5 mengadakan pertemuan rutin di tempat anggota, yang diisi arisan, simpan pinjam dan berembug soal kelompok dalam pengembangan produksi didampingi PPL setempat. Dari kelompok paling tidak menghasilkan Garut 100 kilogram per hari, yang kemudian dijadikan makanan olahan emping dijual bersama-sama Ny Astutik.

Sebagai bahan baku emping Garut, Ny Astutik mampu mengolah 5-10 kilogram per hari, sedangkan untuk pelayanan pemesanan bisa sampai 50 kilogram emping per hari dengan harga jual Rp. 50.000 per kilogram. Pada waktu rame seperti hari Lebaran atau hari besar liburan, bisa mencapai 1 kwintal.

Emping Garut Ny Astutik dibuat kemasan rata-rata per bungkus 2,5 ons, setiap harinya mampu menjual 100 bungkus. Pemasaran disamping pasar lokal, juga wilayah DIY, Surabaya dan Jakarta.

“Namun karena masa pandemi Covid-19 ini pemasaran turun drastis sampai 50 %, hal ini karena tidak ada orang mudik Lebaran, pameran atau rapat-rapat,” ujarnya.

Otomatis makanan olahan emping Garut nya hanya untuk camilan lingkungan sekitar, tetangga yang membutuhkan.
KWT Ngudi Makmurjuga pernah mendapatkan bantuan fasilitas dari Dinas Pertanian Perkebunan DIY berujud program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) senilai Rpb15 juta. Demplot KWT seluas 200 meter pesegi, namun dalam perkembangannya kini lebih suka budidaya di lahan pekarangan sendiri.

Meningkatkan kualitas

Bersama kelompok Ny Astutik kini sedang berusaha keras untuk meningkatkan kualitas produksi emping Garutnya, sehingga hasilnya mampu menembus pasar lewat supermaket. Juga peralatan yang dimiliki masih tradisional, yakni besi dan cor lempeng untuk pembuatan emping.
Diharapkan, dengan makin berkualitas produk emping Garut baik usaha sendiri maupun kelompok nantinya betul-betul mampu menambah penghasilan keluarga.

Ny Astutik sendiri, dengan usaha emping Garut sampai kini mampu menambah ekonomi keluarga serta menyekolahkan kedua anaknya yang besar sudah jenjang universitas dan yang kecil tingkat SMP. Kini di tangannya emping Garut bernilai jual tinggi, yang semula banyak tidak dilirik sekarang untuk rebutan para pedagang. (Sutopo Sgh)a

BERITA REKOMENDASI