Falsafah Jawa Tekan Radikalisme

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Degradasi budaya Jawa dinilai sudah terjadi kemunduran. Padahal jika diterapkan dalam segala lini, budaya dan falsafah Jawa sangat efektif untuk dapat menekan berbagai tindakan yang merugikan. Penerapan falsafah Jawa yang benar akan sangat efektif menekan kasus radikalisme dan intoleransi yang terjadi.

"Jika falsafah dan budaya Jawa masih digunakan, kasus-kasus radikalisasi dan juga intoleransi tidak akan terjadi. Ajaran Jawa sangat kental dengan saling menghormati, menghargai dan kebersamaan. Atau istilah yang dibangun adalah sithik edingdan tepa selira," kata Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi.

Untung mengatakan, upaya melakukan sosialisasi pemahaman falsafah budaya Jawa bahkan penggunaan aksara Jawa penting dilakukan. Ini sebagai bentuk dari sebuah restorasi sosial yang memiliki tujuan untuk bangga dengan budaya dan falsafah Jawa yang dimiliki.

"Jumlah anak muda yang sudah tidak mengenal aksara Jawa semakin banyak. Sehingga perlu ada upaya menjadikan warga DIY bangga dengan penggunaan aksara Jawa," tambahnya.

Untuk mewujudkan konsep restorasi sosial aksara Jawa, Dinsos DIY memiliki program Gerakan Bangga Penggunaan Aksara Jawa (Gerbang Praja). Konsep Gerbang Praja ini mensosialisasikan kepada masyarakat terutama kaum muda untuk bangga dan memahami aksara Jawa.

Untung menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan beberapa kecamatan untuk dilakukan sosialisasi. Tahun ini telah ada 18 kecamatan, ditargetkan 2019 mendatang sebanyak 60 kecamatan berhasil dilakukan sosialisasi kecintaan budaya dan aksara Jawa.

Sosialisasi dalam bentuk sarasehan menghadirkan tokoh masyarakat, ahli filosofi Jawa, pengamat serta pendidik. Untuk Kabupaten Bantul ada tiga kecamatan yang telah dilakukan sosialisasi di antaranya Imogiri, Sanden dan Kretek. (Aje)

BERITA REKOMENDASI