‘Gitar Custom Kembangan’ Eksis di Invesda Expo, Ini Keunggulannya

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL, KRJOGJA.com – Berbeda dengan potensi daerah lain, Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah ternyata punya cara tersendiri untuk memperkenalkan daerahnya di acara Invesda Expo 2018 Jogja Expo Center (JEC) 26-29 April 2018. Bukan makanan, minuman atau tempat wisata, Sukoharjo memilih mengangkat Kampung Gitar Kembangan sebagai salah satu andalan untuk ditawarkan ke masyarakat luas. 

Salah satu pengrajin yang diperkenalkan yakni Wahyudi (29) yang memiliki brand Grasindo Musik. Kepada KRjogja.com saat berbincang Sabtu (28/4/2018), Wahyudi mengaku sudah delapan tahun terakhir berprofesi sebagai pengrajin gitar. 

Meski terhitung baru, namun jangan keliru karena gitar buatan Wahyudi sudah terbang hingga ke Bali dan Singapura. Keberanian menggaransi kualitas hingga kemampuan membuatkan gitar custom sesuai keinginan pembeli ternyata menjadi nilai lebih mengapa gitar Sukoharjo diminati pecinta musik. 

“Ini juga alasan kami ikut Invesda Expo 2018, untuk menunjukkan bahwa di Sukoharjo ada potensi besar pengrajin gitar di Desa Kembangan Baki Sukoharjo yang kualitasnya oke dengan harga terjangkau. Kami bisa membuat berbagai macam gitar mulai dari yang kecil, besar, bass, biola hingga cajon,” ungkapnya tersenyum. 

Di Kembangan menurut Wahyudi, para pengrajin sebenarnya sudah turun temurun memproduksi gitar sejak tahun 1968. Hal inilah mengapa gitar buatan Kembangan terus mendapat tempat hingga kini. 

“Saya pribadi sudah turun temurun dan total saat ini ada 50 pengrajin gitar di Kembangan, jadi memang cukup banyak. Dan semuanya punya keahlian sehingga kualitas gitarnya berani bersaing dengan yang merk-merk terkenal,” sambungnya yakin. 

Bagi para pengrajin di Kembangan, menolak pesanan gitar custom sesuai keinginan pembeli adalah sebuah hal yang tak boleh dilakukan. Apalagi, pembeli dari beberapa daerah seperti Bali atau negara seperti Singapura hampir pasti memesan gitar yang beda dari lainnya. 

“Pembeli dari Bali dan Singapura sering minta dibuatkan gitar yang beda dari biasanya, misalnya beberapa waktu ini pesan dengan lubang bentuk lumba-lumba atau bahkan motif batik. Ya kami buatkan dan hasilnya mereka puas,” imbuhnya. 

Urusan harga, pengrajin gitar Kembangan sudah punya standarisasi tersendiri yakni mulai Rp 60 ribu hingga bahkan lebih dari Rp 4 juta untuk gitar custom. Dengan keikutsertaan di Invesda Expo 2018, Wahyudi dan 49 pengrajin gitar lainnya di Kembangan berharap pemerintah mengetahui bahwa ada anak-anak bangsa yang bisa menghasilkan produk ekspor dengan kualitas yang bersaing. Tak hanya itu, anak-anak muda di Kembangan juga berhasil membuka banyak lapangan pekerjaan bagi warga masyarakat di wilayah tersebut. 

“Paling tidak pemerintah tahu dan bisa membantu teman-teman untuk memajukan lagi usaha kerajinan gitar dan alat musik di Kembangan,” pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI