Hajriyanto Y Thohari : Bahasa Mati, Maka Matilah Kebudayaannya

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Bahasa adalah unsur universal kebudayaan yang paling utama. Jika bahasa mati, maka matiIah kebudayaannya dan akhirnya matilah pula jati dirinya sebagai bangsa. Demikian diingatkan Drs H Hajriyanto Y Thohari MA, Duta Besar LBBP di Beirut Republik Lebanon dalam Kuliah Umum secara daring Prodi Bahasa dan Sastra Arab Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Senin (28/09/2020).

Kuliah Umum bertema ‘Dinamika Bahasa, Sastra dan Geo-budaya Arab Kontemporer di Lebanon’ diberi pengantar Dr Nur Kholis MAg (Dekan Fakultas Agama Islam/FAI UAD) dengan moderator Dr Yoyo MA (Kaprodi Bahasa dan Sastra Arab UAD). Menurut Hajriyanto, bahasa mati maka matilah kebudayaanya mengacu pada pandangan Anna Lunsa Dalgneault, seorang penulis Iagu, musisi dan sarjana Antropologl Lunguistik, ‘When you are Iosing a language, you are losing much more than words and sentences and terms of things You’re Iosing a whale worldview’. (Ketika kamu kehilangan bahasamu, kamu bukan hanya kehilangan kata-kata, kalimat dan istilah sejenisnya. Sesungguhnya kamu sedang kehilangan pandangan dunia atau ideologi).

Mengapa bisa sedemikian seriusnya? Pasalnya Language is a fundamental pillar of cultural Identity you cannot mantain a cultural identity without mantaing the language Leave us our language, and leave us our Identity. Dalam pengamatan Hajriyanto, kini seiring dengan fenomena kemerosotan posisi Bahasa Arab bangsa Arab juga memasuki era baru di bidang sosial dan politik yang oleh banyak pengamat disebut sebagai transisi kebudayaan Arab dalam berbagai bidang, termasuk dalamnya kebudayaan politik atau Arab political culture.

Transisi Ini tampak sekali terutama akhir-akhir ini, ketika dunia Arab menghadapi dan merespons kampanye yang sangat intensif dan ekstensif yang dllakukan Amerika Sarikat. Untuk apa yang disebut dengan proposal perdamaian Israel-Arab yang berjudul ‘Peace to Prospemy A Vision to Improve the Lives 0/ the Palestinian and Israel People (diajukan secara resmi pada 28 Januari 2020 oleh Presiden Donald Trump) dan kampanye untuk menggiring negara negara Arab untuk melakukan perdamain dengan Israel.

Langkah yang terakhir ini telah berhasil membawa Uni Emirat Arab dan Bahrain meneken perjanjian perdamaian dengan Israel yang diduga akan diakui oleh beberapa negara Arab lainnya. Kesepakatan perdamalan tersebut memiliki resonansi yang sangat kuat dalam konsep keataban (Arabisme).

BERITA REKOMENDASI