Harga Rokok Naik, Picu Petani Terpuruk

BANTUL (KRjogja.com) – Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bantul, Sukro Nur Harjono mengatakan, rumor bakal naiknya harga rokok dipasaran membawa dua konsekuensi bagi petani. Disatu sisi petani diuntungkan dengan kebijakan itu. Namun bisa juga menaikkan harga rokok justru awal keterpurukan petani tembakau di Indonesia. Oleh sebab itu pihaknya minta pemerintah mesti hati-hati soal kenaikan harga rokok.

"Petani tidak otomatis untung, anggapannya kan harga rokok naik harga jual tembakau ikut naik, itu belum tentu," ujarnya Selasa (23/8/2016) di Bantul.

APTI menilai naiknya harga rokok membawa dampak positif dan negatif bagi petani. Terutama terkait daya serap perusahaan terhadap tembakau dikalangan petani. Kondisi itu bisa saja terjadi manakala daya beli masyarakat terhadap rokok anjlok.

"Katakanlah harga rokok naik, terus daya beli masyarakat rendah, otomatis tingkat produksi rokok perusahaan turun. Dampaknya jelas serapan tembakau ditingkat petani anjlok, itu petani rugi,"jelasnya.

Sementara jika benar rokok bakal naik bias saja petani meraup untung. Hal itu akan terjadi jika masyarakat kembali ke masa lalu yakni merokok nglinting dewe atau tengwe.  Bila masyarakat kembali ke tengwe, sudah pasti menguntungkan petani karena penjualan tembakau kering rajangan dan Imogiri khususnya dan Bantul umumnya naik.

"Kami dari APTI Bantul berharap pemerintah harus hati-hati soal rokok ini. Dampaknya sangat luas sekali, jika salah langkah banyak pihak jadi korban," jelasnya.  (Roy)

 

BERITA REKOMENDASI