Harus Dibedakan Berita Benar dan Tidak Benar

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Sebagaimana anak muda, kalangan orangtua kini tidak mau ketinggalan memanfaatkan media sosial (medsos) untuk mencari berita, menambah dan memperkuat relasi hingga berbagi informasi. Dalam masa pandemi Covid-19, kehadiran medsos menjadi cara tersendiri bagi masyarakat untuk memperkuat komunikasi bersama keluarga dan saudara secara online. Hanya saja, terkadang hal itu tidak diimbangi dengan kemampuan memfilter berita, mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Semisal, penggunaan aplikasi whatsapp (WA). Orangtua yang sebelumnya tidak pernah mengenal aplikasi tersebut akan meminta anak mereka mengajarkan cara menggunakannya. Hanya saja, terkadang tidak disertai fitur yang ada secara keseluruhan serta potensi bahaya yang timbul apabila berita hoaks beredar melalui aplikasi tersebut.

Akibatnya, orangtua menjadi pihak yang mudah menyebarkan informasi tanpa tahu apakah pesan yang disebarkan tersebut benar atau salah. Ditandaskan, jangan sampai masyarakat menjadi korban akibar berita yang tidak memiliki akurasi kebenarannya.

Pendapat itu disampaikan pegiat literasi media sekaligus dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta Novita Ika Purnamasari SIKom MA, Jumat (25/06/2021) pada pelatihan bertajuk ‘Literasi Berita dan Tangkal Hoaks Covid-19 di Medsos’. Kegiatan diselenggarakan Kelompok Mahasiswa Anti Hoaks 18IK01 Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom, diikuti warga RT 37 Dusun Kediwung. Desa Mangunan, Kapanewon Dlingo, Bantul.

“Dua tahun terakhir, pendampingan literasi media semakin difokuskan pada orangtua mengingat orangtua adalah agen produksi dan informasi yang paling rentan, paling cepat terpapar berita dan paling cepat menyebarkan berita hoaks tanpa mengecek terlebih dahulu kebenaran berita yang didapat. Biasanya, sebaran berita hoaks terjadi dari orangtua yang sekadar membaca, mendengar informasi dari orang lain lalu ingin berbagi pada orang lain,” ujar Novita.

Ada beberapa tipe penyebar hoaks, di antaranya orang yang tahu bahwa informasi yang disebarkan salah namun tetap percaya bahwa segala informasi yang dimiliki adalah benar, sehingga ada unsur kesengajaan untuk memprovokasi orang lain. Ada pula tipe orang yang tidak tahu bahwa berita yang diperoleh merupakan berita hoaks dan terakhir adalah orang yang menyebarkan berita hoaks menggunakan serangkaian data dengan tujuan untuk merugikan pihak lain.

Literasi media tidak hanya sebatas cara menggunakan media secara bijak mulai dari produksi konten hingga menyebarkan. Lebih dari itu, literasi media juga berarti kemampuan untuk mengetahui ciri berita hoaks, solusi mengatasi berita hoaks dan peduli untuk tidak memproduksi atau menyebarkan berita hoaks. Jika tidak bisa mengetahui ciri-ciri sebagaimana hal tersebut, bukan tidak mungkin akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam pelatihan tersebut, orang tua dikenalkan dengan contoh berita hoaks terkait pandemi Covid-19 yang ramai beredar di lini media sosial khususnya aplikasi whatsapp. Jenis berita hoaks, diberikan pemahaman terkait ciri berita hoaks, dan bagaimana solusinya jika menerima berita hoaks.

Antusiasme masyarakat tampak dari munculnya berbagai respons berupa pertanyaan hingga sharing kasus berita hoaks yang pernah dialami. “Kemajuan teknologi tidak bisa dibendung, tetapi kita semua harus selektif dan apreasiatif,” ujar Novita. (Hrd)

BERITA REKOMENDASI