Hindari Post Power Sindrome, Sebelum Pensiun Harus Persiapkan Diri

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Usai purna tugas (pensiun) biasanya seseorang mengalami post power sindrome, lantaran menjelang pensiun tidak mempersiapkan diri untuk menjalani ‘kehidupan baru’. Agar tidak terjerat pada situasi yang tidak mengenakkan secara psikologis, sebelum pensiun seseorang harus menentukan pilihan hidup baru agar keberadaan dirinya tetap diakui masyarakat. Singkatnya, sebelum memasuki masa pensiun, orang harus mempersiapkan diri lahir dan batin.

Hal tersebut disampaikan AKBP (Purn) Bejo WTP, Jumat (13/11/2020). Setelah hampir dua tahun pensiun, Bejo yang sangat familier dengan kalangan wartawan ketika masih aktif berdinas di kepolisian tetap bisa eksis di tengah-tengah masyarakat.

Setelah tidak lagi mengenakan seragam coklat, saat ini Bejo beralih profesi sebagai pengacara. Pilihan profesi itu tidak lepas dari keinginannya agar tetap bisa membantu masyarakat dalam mendapatkan keadilan dan kebenaran.

Semasa aktif berdinas di kepolisian, Bejo dikenal sebagai sosok yang gigih menegakkan keadilan dan kebenaran. Berbagai upaya dilakukan dengan dasar bahwa polisi sebagai pengayom dan pelayan masyarakat, di samping sebagai aparat penegak hukum.

Bejo menegaskan, saat membela klien hal yang harus diutamakan adalah hak-hak yang dimiliki dan harus dijunjung tinggi sebagai bagian dari mengungkap kebenaran sekaligus mendapatkan keadilan. “Jadi polisi dan jadi pengacara prinsipnya sama, memperjuangkan keadilan dan kebenaran,” ungkap Bejo.

Bejo mencontohkan, saat dirinya menjadi salah satu kuasa hukum terdakwa kasus ‘Susur Sungai’, orientasi pertama yang menjadi pertimbangan adalah bagaimana memperjuangkan hak-hak para terdakwa saat menjalani persidangan. Bejo menganggap hak-hak para terdakwa harus dilindungi, tidak boleh ‘diinjak-injak’ semata-mata karena stigma bahwa mereka menjadi penyebab hilangnya nyawa beberapa siswa.”Menilai satu kejadian tidak boleh hanya berdasarkan satu pemahaman, melainkan harus menyeluruh,” ujar Bejo.

Bejo yang saat ini tak lagi menempati ‘Asrama Polisi’ dan kembali ke kampung halaman di Canden Jetis Bantul berusaha tetap bermanfaat bagi masyarakat di sekitar tempat tinggalnya. Setiap ada kegiatan sosial, Bejo selalu berpartisipasi dengan harapan dirinya menjadi bagian dari masyarakat.

Semisal, ketika ada kerja bakti Bejo berusaha datang awal agar tidak terkesan asal datang, melainkan benar-benar berniat untuk kerja bakti. “Meski saya pernah menjadi polisi, sekarang keberadaan di kampung sama dengan warga yang lain,” jelas Bejo.

Bejo ingin memberi contoh kepada masyarakat, bahwa sebagai anggota masyarakat harus menaati aturan yang berlaku di lingkup tempat tinggalnya. Jika berada di depan, harus bisa menjadi contoih yang baik.

Sedangkan kalau berada di tengah, harus mampu membangkitkan semangat untuk hal-hal yang positif. Sementara kalau berada di belakang, harus mampu mendorong menuju kebaikan. “Intinya jika kita tidak mau memimpin, harus mau dipimpin,” tandasnya.

Secara khusus Bejo mengatakan masyarakat harus dilatih untuk bisa berpikir logis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam urusan kepemimpinan, Bejo melihat saat ini masyarakat sedang disibukkan dengan pesata demokrasi, mulai dari Pilihan lurah, pilihan bupati/walikota, bahkan nantinya pilihan gubernur.

Terkait hal itu, Bejo berharap masyarakat benar-benar menentukan pilihannya berdasar hati nurani untuk mendapatkan pimpinan yang baik. “Jangan hanya karena iming-iming duit, kemudian masyarakat meminggirkan hati nurani,” ucapnya.

Keinginan masyarakat untuk mendapatkan pemimpin yang ideal sebenarnya dimulai dari bagaimana cara masyarakat menentukan pilihannya. Jika masyarakat memilih pimpinan berdasarkan kapasitas dan kapabilitas, tentu nantinya akan didapatkan pimpinan yang mumpuni, sekaligus bisa mengayomi dan melayani masyarakat. (Jdm)

BERITA REKOMENDASI