Hubungkan Antar Pulau, Transportasi Udara Penting di Indonesia

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL, KRJOGJA.com – Transportasi udara merupakan kebutuhan urgent di Indonesia. Hal ini karena Indonesia merupakan negara kepulauan, sehingga untuk menghubungkan kepulauan satu dan lainnya diperlukan kecukupan transportasi udara. Permasalahan yang terjadi, sarana, prasarana termasuk infrastruktur dan teknologi kedirgantaraan di Indonesia masih terus berbenah serta diperlukan pengembangan.

 

Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Adisucipto (STTA), Marsda TNI (Purn) Dr. Ir. Drs. T. Ken Darmastono, M.Sc disela Seminar Nasional Teknologi Infomasi Dan Kedirgantaraan (Senatik) 2019, dengan tema “Peran Teknologi  Untuk Revitalisasi Bandara  dan Transportasi Udara” di kampus STTA, Selasa (10/12) menuturkan selain menghubungkan antar pulau, konektivitas transportasi wilayah negara juga berperan mewujudkan kesatuan dan persatuan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.

"Pemerataan pembangunan akan berhasil jika pengiriman logistik, sumber daya alam, dan sumber daya manusia dapat berlangsung dengan cepat dan efisien. Karakteristik Indonesia merupakan negara kepulauan maka memerlukan moda transportasi yang dapat menjangkau seluruh wilayah dengan baik dan cepat. Dengan demikian moda transportasi udara menjadi salah satu  pilihan  untuk membangun konektivitas seluruh wilayah yang ada sehingga pergerakan barang dan jasa dapat berlangsung dengan lebih baik," jelasnya.

Ketua Panitia, Fajar Nugroho, S.T., M.Eng menambahkan dalam membangun sistem transportasi udara yang baik, sangat diperlukan dukungan dan peranan teknologi maksimal dalam menyiapkan sarana dan prasarananya. "Dengan segala kemudahan dalam perkembangan teknologi saat ini yang menjadi pertanyaan masyarakat umum adalah, bagaimana kebijakan membangun kesatuan wilayah, bagaimana peran teknologi dalam mendukung konektivitas wilayah untuk mendukung perputaran barang dan jasa yang lebih baik," jelasnya.

Adapun Seminar yang mengambil tema "Peran  Teknologi Untuk  Revitalisasi Bandara dan Transportasi" diikuti sekitar 100 peserta terdiri dari mahasiswa, dosen, dan pemerhati kedirgantaraan.

Pakar Airport Engineering, Ir Wardhani Sartono, M.Sc  menambahkan Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) merupakan bandara tersibuk sedunia urutan ke 18. Urutan ini lebih tinggi dibandingkan bandara Changi yakni urutan ke 19. Sementara pada 2013 lalu, posisi Bandara Soetta menduduki peringkat ke 10 bandara tersibuk dunia.

Guru Besar Fakultas Teknik  Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Siti Malkhamah,M.Sc., Ph.D mengulas mengenai ciri bandara di Indonesia di antaranya sebagian besar dibangun untuk kepentingan keamanan dan pertahanan, dibangun secara bertahap, dibangun di atas tanah lunak dengan kapasitas daya dukung yang sangat rendah dan sebagian besar dibangun diatas tanah pegunungan dengan luas medan datar yang sangat terbatas. (Aje)

 

 

BERITA REKOMENDASI