Idham: Isu Sara Berpotensi Hancurkan Negara

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL (KRjogja.com) – Indonesia dengan beragam suku, budaya dan agama tetap utuh selama 72 tahun. Meski begitu sebagai bangsa besar tidak  boleh lengah mengingat akhir -akhir ini isu sara terus didengungkan ditengah kehidupan berbangsa Indonesia.

Hal tersebut mengemuka dalam sarasehan bertema 'Gerakan Masyarakat Sipil (Gemas) Merefleksi Nilai- nilai Pancasila Kemanusiaan dan Gotongroyong Pasca Bencana' di Balai Desa Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul, Sabtu (30/12).

Hadir sebagai narasumber anggota Komisi V DPR RI, Drs HM Idham Samawi, Wakil Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih, perwakilan dari Pusat Studi Pancasila UGM, Wakil Sarda DIY Supriyono dengan moderator Agus Sunandar. Dalam acara itu juga dihadiri Lurah Desa Sumbermulyo Ani Widayani pamong desa serta masyarakat umum.          

Idham Samawi mengatakan, Pancasila sebagai ideologi bangsa sudah final. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang ini bagaimana rakyat Indonesia mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari. Ketika nilai Pancasila diterapkan, tidak ada konflik di negeri ini. 
"Ketika rakyat Indonesia sudah 'ngugemi' nilai -nilai Pancasila tentu tidak ada gejolak dinegeri, " tegasnya. 

Idham memberikan contoh, ada negara yang dulu begitu adidaya, tetapi  sekarang hancur lebur. Bahkan negara itu sekarang sudah hilang dipeta dunia. Padahal didalam negara itu tidak lebih dari 30 suku, budaya dan bahasa.

Sementara Indonesia  dengan ratusan suku , budaya dan bahasa hingga sekarang masih utuh. Fakta tersebut menjadi bukti bahwa Pancasila sebagai ideologi mampu menyatukan keberagaman.  Menurut Idham implementasi nilai Pancasila tidak perlu muluk -muluk. Dalam keseharian kadang tidak disadari sudah mengamalkan nilai Pancasila. 

Sementara Wakil Bupati Bantul H Abdul Halim Muslih mengatakan, spirit ketuhanan, karakter kebersamaan dan kebhinekaan warga Bantul sudah terbentuk. Tetapi belakangan ini ketuhanan tersebut disederhanakan menjadi agama. Sehingga yang menonjol kulit luarnya saja yakni agama. Sementara sebuah adat sebagai cermin spirit ketuhanan itu sendiri. "Memang ada sekarang ini muncul larangan terkait dengan kegiatan, ada yang bilang bid'ah itu karena didasari pandangan sempit," ujar Halim. (Roy)

BERITA REKOMENDASI