Impor Daging Hancurkan Peternak Lokal

BANTUL, KRJOGJA.com – Kebijakan pemerintah mengimpor daging kerbau dan sapi dengan dalih memberikan banyak pilihan kepada konsumen dinilai tidak tepat. Keputusan mendatangkan daging dari luar negeri dituding sebagai kebijakan yang bakal menghancurkan peternak sapi lokal. Dari impor itu bukan masyarakat yang diuntungkan, tetapi segelintir orang dalam hal ini importir.

"Dari sisi kebijakan impor daging ini tanpa disadari pemerintah ingin menghancurkan peternak lokal," ujar Ketua Persatuan Pengusaha Daging Sapi Segoroyoso (PPDSS) Pleret Bantul, Ilham Ahmadi SE MSc, Selasa (6/6).

Jika sampai daging impor masuk di DIY sebenarnya kondisinya sangat ironis. Karena di DIY menjadi salah satu wilayah penyandang lumbung ternak sapi. Sehingga sudah pasti banyak pusat penyembelihan sapi.

Ilham minta DIY tidak usah gegabah mendatangkan impor daging dengan alasan menstabilkan harga di pasaran bertepatanmomentum Ramadan. "Ketika orientasinya ingin menciptakan harga murah, peternak lokal saja yang diberi subsidi, jangan langsung impor secara membabi buta," jelasnya.

Ilham juga mempertanyakan program-program pemerintah yang selama ini sudah
digulirkan. Artinya jika memang setiap permintaan meningkat solusinya impor, tidak perlu ada program meningkatkan populasi sapi.

Sementara Ny Asih, pedagang daging sapi Pasar Bantul mengatakan, untuk sekarang ini harga satu kilogram daging sapi kualitas terbaik kisaran Rp 115.000, kelas II antara Rp 90.0000 hingga Rp 100.000, dan kelas 3 Rp 60.000. "Awal Ramadan tahun ini permintaan menurun dan bakal naik mendekati Lebaran," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) DIY, Sasongko mengatakan, pihaknya akan melihat kondisi di lapangan terlebih dahulu untuk meminta jatah atau alokasi daging impor dari pusat. Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre DIY yang sepenuhnya akan mengelola dan memasarkan langsung daging beku tersebut nantinya kepada masyarakat. (Ira/Roy)

BERITA REKOMENDASI