Industri Shuttle Cock Terkendala Bahan Baku

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL (KRjogja.com) – Olahraga badminton atau bulutangkis dikenal luas sebagai olahraga paling populer di negeri ini. melalui cabang olahraga ini, nama Indonesia sering berjaya pada level internasional melalui kejuaraan yang dimenanginya. lihat saja, klub bulutangkis mulai dari amatir hingga profesional menjamur di setiap kota.

Salah satu komponen utama dari bulutangkis yaitu shuttle cock. Sebagai olahraga yang populer dimasyarakat, permintaan akan kock terus meningkat karena sifatnya yang habis sekali pakai.

Di Kabupaten Bantul tepatnya didusun Manggung, Kowen 2, Sewon terdapat sentra industri shuttle cock yang diproduksi secara manual. Kok hasil produksi manggung ini dikenal luas masyarakat bulutangkis khususnya wilayah Jogja dan Jawa Tengah dengan label nama mataram dan sinar alam.

Parman adalah pemilik dari industri kok dengan label sinar alam. Dulunya Parman adalah seorang karyawan pada pabrik kok yang akhirnya keluar dan mendirikan usaha sendiri. berkat keuletan dan kerja kerasnya, merk sinar alam buatannya kini mampu bersaing dengan produk pabrikan bahkan pemasarannya kini menembus wilayah Lampung.

“Permintaan akan kok, setiap harinya sebenarnya banyak namun kadang kita terkendala bahan baku bulu yang harus didatangkan dari wilayah Jawa Tengah. Untuk Jogja sendiri belum bisa memenuhi bahan baku tersebut,” katanya kepada KRjogja.com.

Proses produksi shuttle kok diawali dengan pemilihan bulu yang akan digunakan. Untuk kualitas biasa, bulu yang digunakan adalah bulu ayam, namun untuk kelas super yang banyak digunakan untuk kejuaraan menggunakan bulu angsa yang relatif lebih mahal harganya. Bulu tersebut dipilah menjadi kualitas 1 dan 2. Proses ini untuk menentukan kualitas dan harga jual setelah jadi.

Setelah dipilih kemudian bulu dipotong sesuai dengan ukuran standart kok. Bulu hasil potongan kemudian dicuci untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel.

Berikutnya setelah dijemur, bulu mulai ditancapkan pada kepala kok atau disebut juga dop, kemudian selanjutnya dijahit. Proses ini cukup rumit dan memerlukan keahlian khusus karena berkaitan dengan penentuan kualitas kok dalam hal kecepatan putaran dan akurasi saat dipukul. Selanjutnya adalah proses akhir yaitu pengeleman dop/ memberikan label dan pengemasan.

“Produksi kok sangat mungkin untuk membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, seperti yang saya lakukan, pekerjaan dilakukan oleh para tetangga dan masyarakat sekitar dengan sistem borongan dan dikerjakan dirumah masing-masing sesuai dengan jenis pekerjaan yang diambil. Sementara dirumah aktivitas produksi yang dilakukan adalah proses finishing dan pengepakan saja,” katanya.

Dalam sehari dengan melalui seluruh proses tadi, satu orang karyawan rata rata mampu menghasilkan 15 kok jadi. untuk kok yang sudah jadi setiap slop yang berisi 12 kok, Parman membanderol dengan harga 47 ribu untuk kualitas  1 dan harga 37 ribu untuk kualitas  kelas 2. Sementara khusus kok lancip dibanderol dengan harga 28 ribu setiap slop. (Git/Ngip)

 

BERITA REKOMENDASI