Islam Tengah Tak Boleh Lelah Diperjuangkan di Indonesia

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Pembenturan agama dengan negara serta pengamalan Pancasila masih menjadi isu pengancam persatuan bangsa sampai saat ini. Hal tersebut coba direspon Pusat Studi Muhammadiyah (PSM) UMY bersama DPR RI dengan menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan bertajuk ‘Moderasi Indonesia : Islam Tengah dan Tantangan Persatuan Bangsa’, Kamis (10/02/2022) kemarin.

Acara yang digelar hybrid ini menghadirkan beberapa pembicara yakni Ketua Majelis Tabligh PWM DIY, Hendra Darmawan, Pakar Hukum Nasional Alfian Jafar, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini, anggota DPR RI Ibnu Mahmud Bilalludin dan Ketua DPD PAN Kota Yogyakarta Arif Noor Hartanto.

Diyah Puspitarini, mengutarakan saat ini dalam menjalankan moderasi keagamaan di kehidupan berbangsa dan bernegara masih terdapat banyak tantangan salah satunya fakta bahwa kasus intoleransi yang masih menyentuh angka 50 persen (Sumber: Maarif Institute, Wahid Institute dan Setara Institute). Selain itu, isu terkait dengan radikalisme juga menjadi isu sentral di negara ini.

“Moderasi masih menjadi jalan panjang Islam berkemajuan Muhammadiyah, pekerjaan yang tidak mudah dan terkadang melelahkan. Di sinilah diperlukan kontribusi dan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam memasifkan gerakan moderasi,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ibnu Mahmud Bilalludin yang menilai bahwa tiap generasi memiliki tugas sejarah yang berbeda-beda di dalam ruang dan waktu masing-masing. Namun, satu hal yang harus tetap diusahakan bersama, adalah bagaimana mewujudkan Islam Tengah di bumi Indonesia.

“Kita semua punya tantangan untuk memperjuangkan moderasi beragama atau Islam Tengah agar menjadi gerakan kita bersama. Menurut saya, Muhammadiyah terus berkomitmen untuk turut mengambil peran dalam menarasikan moderasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dari awal berdiri hingga saat ini. Dalam kiprahnya, Moderasi Muhammadiyah diimplementasikan dalam beberapa ranah seperti sosial politik, pendidikan, kesehatan, kemanusiaan dan lain sebagainya. Kami meyakini bahwa kolaborasi dengan banyak pihak, akan mampu mewujudkan moderasi Islam Berkeindonesiaan,” tandas Ibnu yang juga wakil rakyat dapil DIY ini.

Sementara, Arif Noor Hartanto, menilai bahwa diskursus terkait Islam Tengah atau Moderasi Islam harus terus dihadirkan. Namun, dalam membincang moderasi Islam, tidak lagi sibuk dalam perdebatan yang membenturkan Islam dan negara, tetapi bagaimana moderasi Islam menjadi solusi atas permasalahan tersebut.

“Islam tengah dalam sistem kenegaraan harus memiliki kekuatan gaya sentripental, sehingga mampu menarik dan memusatkan kekuatan di sekitarnya. Juga harus memiliki karakter yang dapat membawa manfaat, menghadirkan kedamaian, mendorong kemajuan, dan memberikan pengayoman,” pungkas Arief. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI