Jeritan Pelaku Wisata Bikin Merinding

Editor: Ary B Prass

DLINGO, KRJogja.com- Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Kabupaten Bantul membenamkan sektor wisata ke titik nadir.  Kondisi paling terpuruk akibat pandemi Covid-19 kini tengah dialami  pelaku wisata alam di Dlingo, Kabupaten Bantul dan tentu objek lain  di seantero DIY. Ironisnya lagi, pengelola harus  merumahkan pekerja diobjek wisata. Bahkan mereka harus mencari utangan kanan-kiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Kita sudah tidak punya pilihan lain, kadang harus pinjam uang ke saudara, tetangga, teman. Pokoknya kanan kiri mas. Karena  tidak punya uang lagi,” ujar salah satu pelaku wisata di Puncak Becici Kalurahan Muntuk Kapanewon Dlingo, Bantul, Rabu (29/7/2021).
Sebelum PPKM darurat  diterapkan, pendapatan bisa dibilang  lumayan meski wisatawan tidak ramai sebelum pandemi. Tetapi dalam sehari pasti bisa membawa pulang hasil meski tidak banyak. Dijelaskan, sebelum PPKM darurat, jika dikakulasi sebulan bisa 20 kali mengantar wisatawan berkeliling objek wisata tarif Rp 250 ribu hingga Rp 600 ribu sesuai paket yang diinginkan wisatawan.
“Paling tidak sehari bisa  bawa pulang uang bersih Rp 50 ribu,” ujarnya.
Selain untuk menopang  kebutuhan sehari-hari yang kian  berat. Yuli juga masih membayar biaya sekolah  anaknya yang kini masih duduk di SMK.  Sedangkan putra sulungnya disektor wisata otomatis  nganggur.  Selama  ‘nganggur’   Yuli  berencana merintis jualan.  Tetapi pandemi yang terus  memburuk jadi semua tidak mudah.
“Kita  diminta di rumah saja. Buka warung sekarang juga dibatasi dan belum tentu laku, terus kami rakyat kecil harus bagaimana,” jelasnya.
Yuli punya harapan kepada pemerintah agar  melonggarkan aturan dan kembali membuka objek wisata  dengan pembatasan pengunjung dan  prokes ketat.
“Orang yang hanya menggantungkan hidup disektor wisata seperti saya ini, sangat berat sekali. Bantuan sosial dari pemerintah juga belum ada bagi pelaku wisata,” ujar Yuli.
Sementara Ketua Koperasi Notowono sebagai operator objek wisata hutan pinus Dlingo, Purwo Harsono mengatakan, sejak pandemi hingga disusul PKKM Darurat diperpanjang dengan PPKM Level 4 sudah lebih 400 tenaga atau karyawan diberhentikan. Sementara hanya tersisa sekitar 300 tenaga  yang masih aktif di sejumlah objek wisata dibawah Koperasi Notowono.

BERITA REKOMENDASI