Kemenristek Dikti Minta Pengembangan Baros Dilanjutkan

Editor: KRjogja/Gus

BANTUL (KRJogja.com) – Pendampingan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dikawasan mangrove Pantai Baros Desa Tirtohargo Kretek Bantul harus dilanjutkan. Baros sebagai kawasan Eko Eduwisata harus dikembangkan agar mampu memberikan kontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dari pemerintah daerah harus punya komitmen didukung perguruan tinggi untuk mendorong kawasan Baros sebagai pusat wisata pendikan.

"Kami dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) Republik Indonesia mendukung potensi di kawasan Baros ini terus digali dan dikembangkan," ujar Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat Ditjen Penguatan Risbang Kemenristek Dikti, Viktoriana disela kunjungannya di Pantai Baros Desa Tirtohargo Kretek Bantul, Kamis (7/9). 

Dalam acara itu juga dihadiri Reviewer Kemenristek Dikti, Dra Suparni Setyowati Rahayu MSi, Dekan FKIP UAD sekaligus Ketua Tim Pengusung Program KKN PPM di Baros Dr Trikinasih Handayani MSi, Kepala Pusat KKN UAD Dr. Rina Ratih Handayani, Kepala LPM UAD Drs Jabrohim MM, Koordinator KKN PPM di Tirtohargo sekaligus Dosen Pembimbing Lapangan DPL KKN, Dedi Wijayanti M Hum, Pengusung program, Denik Wirawati MPd, Dukuh Baros Petrus Seh Nugroho.

Dijelaskan, pengembangan Pantai Baros bahkan bisa ditempuh dengan skema lainnya. Sehingga pengembangan yang dilakukan tidak hanya fokus pada mangrove. Menurutnya, Kemenristek Dikti sangat mendukung pendampingan yang dilakukan UAD selama ini. "Pendampingan itu harus bersinergi dengan pemerintah daerah dan Kemenristek Dikti sangat mendukung kegiatan itu,"  ujarnya.

Sementara Suparni Setyowati Rahayu mengatakan, setelah melakukan pendampingan dua tahun di Baros Tirtohargo Kretek hasilnya memang bisa dilihat. Mulai dari pengembangan Eko Eduwisata yang merupakan wisata berbasis pendidikan harus dilanjutkan. "Kawasan yang didampingi UAD harus beda dengan pantai kebanyakan," ujarnya.

Oleh karena langkah selanjutnya yang bisa diambil dengan melebarkan ruang lingkupnya, sehingga  tidak hanya pada mangrove.  Tetapi menjalankan Program  Pendampingan Desa Mitra (PPDM) serta program kemitraan wilayah (PKW). Dalam program itu memang harus mencakup dua wilayah  kelurahan. Menurutnya, pontensi di pesisir selatan yang perlu digarap soal komoditas makanan tradisional. 

“Tadi sudah melihat dan keliling dengan perahu, salah satu yang perlu segera ditangangi soal sampah,” ujarnya,Sementara Dwi Ratmanto dari Kelompok Pemuda -pemudi Baros (KP2B) mengatakan, selama pendampingan itu UAD juga menyediakan sejumlah fasilitas. Mulai dari pembibitan mangrove, hingga kandang ternak. (Roy)

 

BERITA REKOMENDASI