Kiat Desa Poncosari, Olah Sampah Menjadi Berkah

“Kami masih terus sosialisasi ke warga Poncosari, target terdekat, akhir tahun 2020 ini bisa sampai 600 kk pelanggan kami, amin,” jelas pria gondrong lulusan Ilmu Komunikasi UGM ini.

Mencapai target 600 pelanggan dalam setahun bukan hal mudah bagi para pengurus Bumdes Mukti Lestari. Tantangan terberat bagi mereka adalah mengubah kebiasaan lama warga desa  pada sampah.

Sebelum Konco Pilah mulai bergerak, sebagian masyarakat desa yang terdiri dari 24 dusun ini terbiasa membuang sampah di sembarang tempat dan juga membakarnya. “Imbasnya, saluran irigasi, beberapa lahan kosong di desa, terutama di pinggiran jalur lintas selatan Jawa yang juga masih di Kawasan desa ini banyak tumpukan sampah,” imbuh Direktur Bumdes yang akrab disapa Mimit ini.

Belum lagi dampak pembakaran sampah yang memberikan pengaruh buruk bagi kesehatan. Pembakaran sampah plastik dapat membentuk senyawa dioksin. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, dioksin memiliki potensi racun yang memengaruhi beberapa organ dan sistem tubuh.

Mengantisipasi hal tersebut, Konco Pilah secara kontinyu menjemput sampah enam hari dalam seminggu ke rumah warga yang telah berlangganan jasanya. Pengangkutan sampah secara rutin ini disambut baik oleh para pengguna jasa.

Salah satunya Wakijem (50) warga desa yang berprofesi sebagai pedagang ini cukup terbantu dengan adanya Konco Pilah. Ia biasanya bingung dengan pengelolaan sampah, residu organik sisa rumah tangga kerap ia buang di pekarangan, sedangkan plastik ia bakar.

BERITA REKOMENDASI