Kontraktor Proyek SAH Mengaku Dijebak Jaksa Eka

Editor: Ivan Aditya

BANTUL, KRJOGJA.com – Sidang kasus korupsi saluran air hujan (SAH) di Kota Yogyakarta masuk dalam tahapan pledoi atau pembacaan pembelaan bagi terdakwa Direktur Utama PT Manira Arta Rama Mandiri, Gabriealla Yuan Anna Kusuma, Kamis (09/01/2020). Gabriella mengaku dijebak dua oknum jaksa Eka Safitra dan Satriawan Sulaksono untuk memberikan uang agar dimenangkan dalam lelang proyek bernilai pagu Rp 10,8 miliar itu.

Sidang dipimpin Hakim Ketua, Suryo Hendratmoko SH dan didampingi dua hakim anggota ad hoc tipikor, Samsul Hadi SH dan Rina Listyowati SH. Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diwakili Wawan Yunarwanto SH.

Baca juga :

Sultan: Waspadai Angin Kencang dan Tanah Longsor
Optimis, Kunjungan Wisman di DIY Capai Satu Juta

Dalam perkara tersebut Gabriella dituntut dua tahun penjara setelah dinilai melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a UU 31/1999 jo pasal 2 UU 20/2001 jo 64 KUHP. Ia juga diancam denda Rp 150 juta subsider kurungan 3 bulan dalam kasus tersebut.

Gabriella diduga memberikan suap kepada Eka Safitra dan Satriawan Sulaksono sebesar Rp 221.740.000 dalam proyek SAH di Umbulharjo Kota Yogyakarta. Uang tersebut diterima kedua jaksa untuk membantu memuluskan pemenangan lelang proyek rehabilitasi SAH dengan pagu sebesar Rp 10.887.750.000.

Gabriella dalam surat pembelaannya mengungkap sudah menyetorkan uang sejumlah 8 persen dari nilai proyek pada Jaksa Eka. Anna pun mengaku dijebak dan dimanfaatkan dua oknum jaksa tersebut lantaran ternyata tender proyek melalui PT Widoro Kandang didapatkan sesuai prosedur berlaku.

“Meski bukan panitia lelang, namun Eka (Safitra) berjanji akan mempertemukan saya dengan penitia Bagian Layanan Pengadaan (BLP) maupun perwakilan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta. Namun hal itu tidak pernah terealisasikan baik dalam forum bersama maupun pribadi,” ungkap Anna di persidangan yang digelar Pengadilan Tipikor Yogyakarta.

Sementara ketua kuasa hukum Anna, Sofyan Muhammad SH mengatakan kliennya merupakan pengusaha korban tindakan nakal aparat. Fakta yang dipaparkan di persidangan menurut dia membuktikan penerapan pasal 5 UU Tipikor kepada kliennya dengan ancaman minimal satu tahun dan maksimal 10 tahun tidak relevan.

“Fakta menunjukkan, Anna pengusaha yang menjadi korban aparat nakal dan tidak melakukan tindak pidana karena hanya ditawari serta hanya memberikan upeti. Dia hanya dijebak. Kami meminta majelis hakim menerapkan pasal 13 UU Tipikor dengan ancaman hukuman maksimal tiga tahun,” ungkapnya usai persidangan.

Persidangan sendiri akan dilanjutkan pekan depan 16 Januari 2020 dengan agenda pembacaan vonis hakim. Sebelumnya, dalam sidang pertama Rabu (08/01/2020) kemarin, jaksa Eka Safitra diancam hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal seumur hidup, dengan denda Rp200 juta hingga Rp1 miliar. Sementara jaksa Satriawan Sulaksana, ancaman hukuman satu sampai lima tahun penjara dengan denda Rp 50 juta hingga Rp 200 juta. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI