Krisis Air Bersih Jadi Beban Warga

Editor: KRjogja/Gus

DLINGO, KRJOGJA.com – Krisis air bersih di Kabupaten Bantul tahun ini dirasakan paling berat dibanding tahun sebelumnya. Sementara DPRD Bantul berjanji bakal menambah anggaran untuk pengadaan air bersih. Penambahan anggaran dilakukan setelah melihat warga berdampak kekeringan makin memperihatinkan. Sementara itu Keluarga Besar Alumni SMP Muh Bantul Angkatan 79  – 80 melakukan droping air bersih di Dusun Seropan Desa Muntuk Bantul serta Sendangsari Desa Terong Dlingo Bantul.

“Krisis air bersih sangat memprihatinkan, banyak warga kena dampaknya. Jangan sampai kondisi ini akan terjadi terus terusan. Pemerintah harus hadir,“ ujar Wakil Ketua 1 DPRD Bantul, Nur Subiyantoro, Senin (30/9).

Politisi Partai Gerindra ini mengatakan sebagai solusi sementara anggaran untuk pengadaan air bersih akan ditambah. Harapannya droping bisa dioptimalkan sehingga makin luas wilayah yang disasar. “Anggaran akan kami tambah, soal besarannya kami belum bisa bicara banyak. Yang pasti akan ada penambahan,” ujar Nur Subiyantoro. Karena untuk sekarang ini dampak kekeringan begitu luas. Daerah yang sebelumnya tidak sulit mendapatkan air bersih dimusim kemarau. Saat ini sumber air sudah mengering, bahkan sumur juga sudah habis.

“Krisis air bersih ini sudah jadi beban berat bagi masyarakat, harus ada penyelesaian secara permanen,” ujar Nur Subiyantoro.

Sementara panitia droping air bersih dari Keluarga Besar Alumni SMP Muh Bantul Angkatan 79  – 80, Daryanto mengatakan, Alumninya menggelontorkan 20 tangki air bersih untuk Desa Muntuk dan Terong. “Kegiatan sosial ini dilakukan atas dasar panggilan jiwa. Daerah yang mengalami krisis air bersih harus dibantu. Sehingga kami hadir di Muntuk dan Terong. (Roy)

 

 

BERITA REKOMENDASI